CNBC Indonesia Weekend

Petani Karet yang Tinggal Menunggu 'Mati'

Entrepreneur - Fikri Muhammad, CNBC Indonesia
17 March 2019 18:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Petani karet saat ini sedang diterpa masa sulit. Kondisi ekonomi terkungkung oleh nilai harga beli karet mentah yang rendah. Zaenuri, petani karet asal Cipta Praja, Sumatra Selatan, bercerita musim hujan juga menjadi kendala, sebab kuantitas panen berkurang dari cuaca normal.

Di Desa Cipta Praja, Zaenuri mempunyai lahan karet seluas 4 hektare. Pekerjaan sebagai petani karet dimulai dari tahun 2012. Zaenuri mengaku bahwa dirinya telat untuk menggarap lahan karet.

Sebab pada tahun 2010 dan 2011 petani karet bisa menjual hingga 25 ribu per kilogram. Jauh berbeda dengan kondisi sekarang. Dalam satu minggu Zaenuri bisa memanen satu kuintal karet dalam 1 hektare lahan. Ia mempunyai lahan dan dibantu kawan-kawanya untuk mencatut karet tiap harinya.


"Dalam satu minggu saya mendapatkan Rp 8.700/kuintal untuk satu hektare. Tapi sebetulnya sekarang tergantung dari musim. Kalau musim penghujan seperti ini buat karet kadang gak jadi. Kita kan rugi, kalau hujan paginya itukan gak bisa ngecer. Keuntungan saya bagi 50:50 dengan kawan yang menggarap," kata Zaenuri pada CNBC Indonesia (7/3/2019).



Jika dihitung, maka penghasilan Zaenuri jika cuaca sedang bagus dalam satu minggu ialah Ro 34.800. Belum termasuk bagi hasil 50:50 dengan kawanya. Sedangkan, rata-rata petani karet di Cipta Praja menurut Zaenuri hanya memiliki 1 sampai 2 hektare lahan saja.

Getah karet yang dihasilkan perminggu itu dikumpulkan dalam suatu lelang kelompok tani bernama Unit Pengelolaan Pemasaran Bahan Karet (UPPB) Cipta Praja. Menurut Zaenuri, ini lebih untung di banding menjual pada tengkulak yang membeli dengan harga kisaran Rp 7.000-Rp 8.000 per kuintal.

Ini membuat banyak petani di Desa Cipta Praja mengeluh. Harga karet mentah yag rendah juga memengaruhi nilai jual beli lahan.

"Harga jual lahan itu tergantung harga karetnya. Kalo harga karetnya dulu diatas 10 ribu per kilogram atau 15 ribu itu mahal tanahnya. Bisa mencapai 70, 80, bahkan 100 juta rupiah per hektare. Kalau karet saja murah mungkin nggak sampe gak sampe segitu, bahkan nggak laku. Kalau mengelola lahan tapi karetnya nggak bagus kan males juga," ucap Zaenuri.

Petani Karet yang Tinggal Menunggu 'Mati'Foto: Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden


Selain itu, Ketua Umum Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Lukman Zakaria mengatakan bahwa petani karet hanya tinggal menunggu waktu untuk mati karena sudah dua sampai tiga tahun ini harga tak kunjung naik.

Ia menyampaikan bahwa kesejahteraan petani karet hanya mendapatkan 6.000 rupiah per kilonya. Bahkan menurutnya petani karet sulit untuk makan karena berbanding dengan harga beras perkilo yang mencapai 12 ribu.

Lukman juga mengemukakan bahwa harga karet dipengaruhi oleh ekspor. Negara saat ini masih bergantung pada penjualan barang mentah setengah jadi.

"Ya sebenernya lucunya negara konsumen itu bisa ngatur harga. Sedangkan berapa sih yang punya karet di dunia? Kenapa kita gak bisa nentukan harga? Di situkan konyolnya. Makanya dari barang mentah kenapa kita tidak mampu bikin ban aja? Kebutuhan ban motor di pasar domestik aja banyak. Tapi Menteri Perdagangan Perindustrian bergeming. Ini yang jadi persoalan," kata Lukman Zakaria pada CNBC Indonesia (7/3/2019).



Lukman juga menambahkan bahwa komoditas perkebunan dianggap sebelah mata. Menteri Pertanian, menurut dia, terlalu mementingkan pajale (padi, jagung, dan kedelai).

"Padahal sebenarnya kalo kita mau jujur hampir 80 persen negara ini kan kebun. Makanya kemarin tanggal 2 kami kumpul di Jogja. Kami Rakernas sekalian deklarasi supaya perkebunan dijadikan kementerian sendiri," ujar Lukman.

Dalam data yang dihimpun oleh tim riset CNBC Indonesia mengatakan bahwa produsen karet utama dunia adalah Thailand, Indonesia, dan Malaysia. Di mana itu menguasai lebih dari 60% pasokan dunia.

Pergerakan harga karet pun dipengaruhi oleh bursa futures Tokyo dan Shanghai. Harga ini juga dipengaruhi oleh harga minyak dunia, yang merupakan bahan baku karet sintesis.

Petani Karet yang Tinggal Menunggu 'Mati'Foto: kiri-kanan: Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro, Dirjen Perkebunan Kasdi Subagyono, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Ketum Gapkindo Moenardji Soedargo, Kepala BP3 Kemendag Kasan Muhri saat pertemuan dengan Pelaku Usaha Karet di kantor Kemenko Perekonomian (CNBC Indonesia/Samuel Pablo)


(miq/miq)
1 dari 2 Halaman
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading