Cara Jahja Setiaatmadja Pimpin BCA: Ngobrol, Tak Perlu Marah

Entrepreneur - Bernhart Farras, CNBC Indonesia
04 February 2019 15:37
Cara Jahja Setiaatmadja Pimpin BCA: Ngobrol, Tak Perlu Marah
Jakarta, CNBC Indonesia - Memimpin Bank Swasta terbesar di Indonesia, Bank Central Asia (BCA) pastinya tidak mudah dan membutuhkan kepemimpinan yang Hebat.

Jahja Setiaatmadja menduduki kursi Direktur Utama BCA sejak 2011. Di bawah kepemimpininannya BCA kini menjadi salah satu bank terkemuka. Melihat kesuksesannya tersebut, Jahja Setiaatmadja dinobatkan sebagai salah satu CEO terbaik di industri keuangan.

Jahja dikenal memiliki profile yang santai baik terhadap karyawan dan media. Ia menceritakan bahwa beberapa orang bahkan mendirikan komunitas JFC atau singkatan dari Jahja Fans Club.


"Saya merasa Saya orang yang cukup santai dengan tim kita cukup secara normal tidak ada suatu batasan anak buah dan bos," kata Jahja.

"Di whatsapp (wa) atau siapapun yang mau ketemu Saya tinggal atur waktu," tambahnya. "Bahkan saya punya komunitas JFC Jahja Fans Club, kapan saja mereka bisa WA Saya. Tentunya Saya menjawab bisa refer ke anak buah atau langsung, Sesuai waktu yang kebetulan Saya ada."

Jahja mengaku bahwa dirinya memiliki karakter yang santai dan tidak terlampau serius. Ia juga terlihat suka bercanda dengan karyawannya dengan mencari hal lucu untuk mencairkan suasana. Contohnya Jahja bercerita ketika dirinya "Lunch bersama, Saya dengan wajah serius bertanya dengan teman Saya di bagian logistik. 'Eh kalender meja harganya berapa?' Terus dia bilang kira-kira Rp 23 ribu pak. 'Eh itu ada yang jual 100 ribu kok laku keras ya? Karena katanya tanggal merahnya lebih banyak dari yang lain.'"

Ketika di tanya, apakah sebagai pemimpin Jahja adalah orang yang galak. Ia menjawab "sejak 1990 belum pernah saya marah atau maki orang."

Menurutnya jika ada kekurangan Jahja akan panggil orang tersebut ke ruangan untuk ngobrol bersama. Lalu akan diadakan diskusi untuk membereskan bersama atau merencanakan tindakan yang harus dilakukan seperti training atau kelengkapan kerja.

Jahja mengatakan kita bisa menyadarkan orang atas kekurangannya dan akan merasa banyak mendapatkan pelajaran jika diberikan kesempatan untuk belajar.

"Ini lebih positif daripada marah-marah. Ga akan positif karena menyenangkan diri kita tapi menyakiti orang lain," ujarnya. "Sebagai atasan itu bukan marah tapi mengajak berbicara dan kita mencari kelemahan atau kekurangan. Tidak ada gading yang tidak retak. Lalu kita perbaiki bersama."

Berbicara mengenai era milenial, saat ini banyak kalangan muda yang menjadi CEO. Jahja adalah salah satu orang yang percaya dengan kepemimpinan di usia muda, namun harus diikuti dengan beberapa tips ini:

Pertama, penting untuk Anda punya kemampuan dalam teknologi dalam kepengtahuan dan digitalisasi kemudian hal hal baru di era milenial ini.

Kedua, Anda harus coba gali terus yaitu mature dan wise. Mature dan Wise ini tidak bisa digantikan dengan instan. Seperti ibarat kopi, kopi instan cepat tersaji tapi kalau mengharapkan good quality harus bener bener di reoasted agak lama lalu di seduh lalu kita nikmati wanginya. Jadi mature dan wise milenial tidak bisa dicapai dalam waktu 1-2 malam.

"Ketiga, Anda perlu juga belajar dari sorry to say dari kaum kolonial. Kolonial itu angkatan Saya. Coba ambil wise nya bagaimana kematangan sebagai pemimpin jangan emosional. Hadapi segala sesuatu dengan tenang, sabar hasilnya akan lebih baik. Apalagi dilengkapi kepiawan dalam pengetahuan dan teknologi, pasti jauh lebih hebat dari angkatan kita ini."


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading