PBB Kasih Peringatan Soal Data Center, Warga RI Harus Tahu

Redaksi,  CNBC Indonesia
07 October 2026 21:10
Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels)
Foto: Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan peringatan keras mengenai dampak lingkungan dari pusat data yang menopang kecerdasan buatan. Konsumsi sumber daya alam meningkat begitu cepat sehingga dapat mengancam ketersediaan air bersih, lahan, serta kestabilan iklim global, dikutip dari laporan resmi Universitas PBB, Rabu (7/10/2026).

Data center diperkirakan menghabiskan 945 miliar kwh listrik setiap tahunnya pada tahun 2030. Jumlah ini hampir tiga kali lipat gabungan pemakaian listrik Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria yang secara total dihuni lebih dari 650 juta orang. Namun dampak tidak berhenti di energi. Setiap kilowatt listrik yang dipakai juga memerlukan air untuk pendinginan serta lahan untuk pembangkitan dan jaringan pasokannya.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa pada akhir dekade ini, konsumsi air terkait AI dapat menyamai kebutuhan dasar air bersih 1,3 miliar orang. Luas lahan yang dibutuhkan diperkirakan melampaui 14.500 kilometer persegi, atau kira-kira dua kali lipat luas kawasan Jabodetabek.

Penggunaan sehari-hari ternyata menjadi penyebab terbesar, bukan pelatihan model besar seperti yang banyak dibahas. Sekitar 80 hingga 90 persen pemakaian energi berasal dari permintaan harian pengguna. Satu layanan kecerdasan buatan yang populer saja memproses sekitar 2,5 miliar permintaan setiap harinya. Membuat satu gambar AI memerlukan energi lebih dari seribu kali lipat dibandingkan memproses teks biasa, dan pembuatan video bahkan jauh lebih boros lagi.

Peningkatan efisiensi belum tentu mengurangi beban. Harga yang makin murah justru mendorong pemakaian yang makin meluas, sehingga total konsumsi terus naik. Dampak ini juga tidak merata. Lebih dari 90 persen kapasitas komputasi canggih dunia hanya dimiliki oleh dua negara yaitu Amerika Serikat dan China, sedangkan lebih dari 150 negara lain hampir tidak memiliki infrastruktur sendiri.

Beban lingkungan justru sering jatuh pada daerah yang kekurangan sumber daya, termasuk negara berkembang.

Data center juga menghasilkan limbah elektronik hingga 2,5 juta ton per tahun pada 2030, sebagian besar berakhir di negara yang tidak memiliki fasilitas pengolahan aman. Pergantian perangkat yang makin cepat memperparah masalah ini. Sebagai gambaran, chip tercanggih Nvidia saat ini yang diberi nama Vera Rubin dirilis hanya 2 tahun setelah versi tercanggih sebelumnya yang diberi nama Blackwell. 

PBB menegaskan bukan berarti AI harus dihentikan. Namun arah perkembangannya harus diubah agar tidak melampaui batas kemampuan Bumi.

Pemerintah diminta menyertakan kebutuhan air dan lahan dalam perencanaan pembangunan pusat data, sementara perusahaan didorong merancang sistem yang lebih hemat sumber daya. Pengguna juga berperan dengan memilih layanan yang tidak berlebihan pemakaian dayanya.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Ramai-Ramai Warga Tolak Data Center, Belum Dibangun Sudah Kena Demo


Most Popular
Features