PBB Sebut Area Jabodetabek, Kasih Peringatan Soal Data Center

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
09 October 2026 11:00
Gedung data center Meta di Mansfield AS. (Dok. Grant Blankenship / Georgia Public Broadcasting)
Foto: Gedung data center Meta di Mansfield AS. (Dok. Grant Blankenship / Georgia Public Broadcasting)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pembangunan masif data center AI yang terjadi belakangan ini menimbulkan polemik. Masalah lingkungan menjadi yang paling disorot dan potensinya pada manusia di masa depan.

Konsumsi listrik data center diperkirakan dobel dari 485 TWHpada 2025 menjadi 950 TWhpada 2030, atau 3 persen dari kebutuhan listrik dunia, Pendorongnya adalah investasi besar-besaran atas infrastruktur data center yang diperkirakan telah mencapai US$ 800 miliar pada 2026

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ikut mengomentari soal hal ini. Menurut lembaga tersebut, pembangunan data center bisa memengaruhi ketersediaan air bersih, lahan, hingga kestabilan lahan.

PBB melaporkan konsumsi air terkait AI akhir dekade ini bakal menyamai kebutuhan dasar air bersih 1,3 miliar orang setiap tahun. Luas lahan yang dibutuhkan bisa mencapai 14.500 km persegi atau dua kali lipat dari kawasan Jabodetabek.

Salah satu yang disorot adalah penggunaan sehari-hari yang menjadi penyumbang terbesar masalah ini. Sekitar 80-90% pemakaian energi dari permintaan harian penggunaan.

Sebagai contoh, satu layanan AI bisa memproses 2,5 miliar permintaan per hari. Kabarnya satu gambar AI akan mengonsumsi energi lebih dari seribu kali lipat dibandingkan memproses teks biasa, konsumsi yang jauh lebih besar bahkan terjadi saat pembuatan video.

Solusi masalah ini bukan hanya soal efisiensi, Karena dinilai belum tentu bakal bisa mengurangi beban. Konsumsi juga bakal terus naik karena harga yang kian murah mendorong meluasnya penggunaan model AI.

Parahnya beban lingkungan tak terasa di semua negara, termasuk yang negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan China yang terdepan dalam perlombaan AI. Namun akan dirasakan oleh negara berkembang.

Masalah lainnya adalah limbah elektronik. Jumlahnya dilaporkan bisa mencapai 2,5 juta ton per tahun pada 2030 dan akan berakhir pada negara yang tidak memiliki fasilitas pengolahan aman.

Sayangnya masalah ini akan makin parah karena periode pergantian perangkat yang kian cepat. Contohnya, chip Nvidia Vera Rubin dirilis berselang dua tahun dari chip canggih lainnya Blackwell.

Meski begitu, PBB tak menyarankan menyetop AI. Perlu dilakukan adalah mengubah arah perkembangan agar tidak melampaui batas kemampuan Bumi.

Selain itu, pemerintah perlu menyertakan kebutuhan air dan lahan saat merencanakan pembangunan data center. Untuk perusahaan, tugasnya adalah merancang sistem yang hemat sumber daya.

Terakhir, masyarakat pengguna perlu memilih layanan yang tidak menyedot pemakaian daya secara boros.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article PBB Kasih Peringatan Soal Data Center, Warga RI Harus Tahu


Most Popular
Features