Bukan HP, Nokia Punya Sumber Duit Baru yang Laku Keras
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri teknologi sebenarnya bisa membangun data center dua kali lebih cepat jika tidak menghadapi keterbatasan pasokan. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap infrastruktur kecerdasan buatan (AI) masih sangat kuat.
Hal tersebut disampaikan CEO Nokia Justin Hotard. Menurutnya, kondisi pasokan saat ini justru menjadi salah satu faktor yang membatasi kecepatan pembangunan data center.
"Saya rasa Anda tidak bisa mengatakan dengan cara apa pun bahwa kita sedang membangun secara berlebihan saat ini, karena kenyataannya jika kita bisa membangun dua kali lebih cepat, pelanggan kami bisa membangun dua kali lebih cepat, mereka mungkin akan melakukannya," kata Hotard, dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (6/10/2026).
"Jadi itu membuat saya yakin bahwa kita masih berada di tahap awal pembangunan AI," lanjutnya.
Hotard mengatakan keterbatasan pasokan, termasuk kekurangan chip memori dan energi, masih menjadi hambatan bagi industri untuk mempercepat pembangunan infrastruktur AI.
Nokia sendiri telah mengubah fokus bisnisnya dan kini menjadi salah satu pemain penting dalam infrastruktur AI. Perusahaan menjual teknologi yang digunakan untuk menghubungkan rak-rak chip di dalam data center serta teknologi yang menghubungkan data center di berbagai lokasi.
Peran Nokia sebagai penyedia alat dan bahan dalam ledakan AI turut menarik perhatian investor. Saham Nokia tercatat naik sekitar 130% dalam setahun terakhir.
Di tengah ekspansi tersebut, muncul perdebatan mengenai apakah industri membangun data center terlalu cepat dan apakah permintaan AI akan cukup kuat untuk menopang investasi dalam jangka panjang.
Menurut riset yang dipaparkan dalam Brookings Papers on Economic Activity, investasi untuk pembangunan AI, mulai dari data center, chip hingga infrastruktur pendukung, diperkirakan mencapai US$10,3 triliun sepanjang 2025-2032. Nilainya setara rata-rata 3,63% dari produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat setiap tahun.
Perusahaan juga mengandalkan utang, usaha patungan dan berbagai skema pembiayaan kompleks untuk menggelontorkan modal ke proyek-proyek tersebut. Model investasi ini bergantung pada keberlanjutan permintaan terhadap layanan AI dalam jangka panjang.
Kekhawatiran mengenai laju pembangunan AI semakin besar setelah peneliti Anthropic memperingatkan risiko eksistensial dari teknologi tersebut. CEO Anthropic Dario Amodei kemudian menyerukan perlunya memperlambat pengembangan model AI paling canggih.
Pernyataan tersebut sempat memicu aksi jual terhadap saham-saham terkait AI pada bulan lalu.
Namun, Hotard menilai permintaan AI tidak hanya bergantung pada perusahaan seperti Anthropic dan OpenAI yang terus merilis model AI generasi terbaru.
"Menurut saya, kenyataannya adalah bahkan posisi kita saat ini masih sangat awal dalam penerapan teknologi, dan kekuatan model-model ini sangat besar sehingga ada banyak permintaan untuk sekadar menjalankan dan menerapkan teknologi yang sudah ada," ujarnya.
"Kalaupun kita tidak memiliki model frontier baru yang dirilis dalam tiga tahun ke depan, kita mungkin masih bisa membuat kemajuan besar hanya dengan menerapkan teknologi yang sudah tersedia saat ini," kata Hotard.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]