Roket Elon Musk Akan Menabrak Bulan Kamis Pagi

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Senin, 03/08/2026 08:35 WIB
Foto: Roket SpaceX Falcon 9 dan pesawat ruang angkasa Dragon lepas landas dalam misi Crew-12 NASA ke Stasiun Luar Angkasa Internasional, membawa astronot NASA Jessica Meir dan Jack Hathaway, astronot ESA Sophie Adenot dan kosmonot Rusia Andrey Fedyaev, dari Kompleks Peluncuran 40 di Stasiun Angkatan Luar Angkasa Cape Canaveral di Cape Canaveral, Florida, AS, 13 Februari 2026. (REUTERS/Steve Nesius)

Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu potongan roket Falcon 9 milik SpaceX diperkirakan menabrak Bulan pada 5 Agustus 2026 pukul 02:44 ET (07:09 WIB 6 Agustus 2026). Potongan tersebut disebut bagian dari roket yang meluncurkan dua wahana pendarat Bulan, Blue Ghost milik Firefly dan Hakuto-R milik ispace tahun lalu.

Tabrakan tersebut dilaporkan Bill Gray yang membuat Project Pluto. Semua tahapan peluncuran 15 Januari 2025 dilakukan pelacakan, termasuk Blue Ghost yang berhasil mendarat di Bulan dan selubung muatan yang masuk kembali ke atmosfer Bumi.

Gray menjelaskan bagian atas roket, 2025-010D terus mengorbit Bumi. Namun posisinya lebih tinggi dan tidak kembali ke atmosfer.


"Beberapa kali, benda itu melintas dekat Bulan dan Bumi, namun tidak cukup dekat untuk kemungkinan terjadi tumbukan," kata Gray dikutup dari Ars Technica.

Gray mengatakan mengumpulkan 1.053 pengamatan pada potongan roket itu hingga 26 Februari 2026 lalu.

Objek diperkirakan akan bergerak dengan kecepatan 2,43 km per detik saat menabrak di dekat Kawah Einsten Bulan. Roket akan menabrak dalam keadaan utuh karena Bulan tidak memiliki atmosfer.

Dampak dari tabrakan hanya menimbulkan kawah kecil. Diperkirakan tidak akan ada kerusakan lebih lanjut lagi.

Gray juga memperkirakan dampak tabrakan kemungkinan terlalu lemah terlihat oleh teleskop dari Bumi.

Sebelumnya, Gray juga pernah memperkirakan tabrakan tahap kedua roket Falcon 9 lainnya yang akan menabrak sisi jauh Bulan.

Meski saat ini tidak berbahaya, tapi perlu jadi perhatian karena dapat menjadi masalah di masa depan. Hal ini mengingat NASA dan China tengah merencanakan membangun pos permanen di sekitar Kutub Selatan Bulan.

Pembangunan tersebut akan membuat peluncuran roket menjadi lebih sering dari sekarang untuk mengangkut wahana penjelajah, perbekalan hingga alat komunikasi.

Ars Technica menuliskan salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah menempatkan bagian roket ke jalur yang bisa menghindari tabrakan dengan Bumi atau Bulan untuk pembuangan. Misalnya di sekitar orbit Matahari.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Intip Cara AI Bantu Bisnis Genjot Penjualan di e-Commerce