Heboh Tesla Mau Tutup di China, Elon Musk Buka Suara

Redaksi,  CNBC Indonesia
31 July 2026 15:00
Elon Musk. (Patrick Pleul/Pool via REUTERS/File Photo)
Foto: Elon Musk. (Patrick Pleul/Pool via REUTERS/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rumor menghebohkan muncul dari kerajaan bisnis orang terkaya di dunia, Elon Musk. Kabarnya, para eksekutif di raksasa mobil listrik Tesla milik Musk diminta bersiap memisahkan atau menjual bisnisnya di China.

Hal itu dilakukan menjelang potensi pemisahan atau penggabungan (merger) dengan SpaceX, perusahaan lain milik Musk yang berfokus pada roket luar angkasa dan satelit. Namun, kabar yang menghebohkan industri ini langsung dibantan Musk.

Ia menyebut informasi itu sebagai berita bohong. Sebelumnya, pada Kamis (30/7) waktu setempat, Wall Street Journal melaporkan para penasihat Tesla telah membahas berbagai opsi pemisahan, termasuk spin-off (pemisahan anak perusahaan), penjualan, atau penutupan.

"Hal ini bahkan tidak pernah muncul dalam pembahasan sekali pun," ujar Musk melalui akun media sosial X miliknya, dikutip dari Reuters, Jumat (31/7/2026).

"Berita bohong yang konyol," ia menambahkan.

Isu merger antara Tesla dan SpaceX sebenarnya sudah lama diendus para investor dan analis, terutama di tengah proses Initial Public Offering (IPO) SpaceX yang mencatatkan rekor fantastis senilai US$75 miliar.

Namun, mengawinkan Tesla dan SpaceX bukan perkara mudah. Rencana ini diprediksi akan terganjal benturan geopolitik dan regulasi yang amat rumit, khususnya di China.

Pasalnya, SpaceX merupakan kontraktor utama Kementerian Pertahanan AS yang memegang proyek sensitif terkait keamanan nasional dan satelit. Di sisi lain, Tesla mengoperasikan fasilitas manufaktur raksasa yang dimiliki 100% tanpa mitra lokal di China.

Analisis dari JPMorgan pun menyoroti adanya hambatan praktis dari sisi regulasi. Hubungan erat SpaceX dengan pemerintah AS berpotensi besar memicu sentimen kekhawatiran keamanan nasional dari pihak Beijing.

Strategi di Tengah Konflik Geopolitik AS-China

Wall Street Journal mencatat, Musk sejatinya telah menginstruksikan para eksekutif Tesla untuk memberi batas tegas (laser-focused) antara operasional di AS dan China. Langkah ini diambil sebagai jaring pengaman agar unit bisnis Tesla di AS tetap bertahan jika konflik geopolitik Washington-Beijing memuncak.

Beberapa opsi pemisahan internal yang sempat dibahas, menurut laporan Wall Street Journal, antara lain:

  • Membentuk entitas penjualan terpisah khusus untuk menangani ekspor dari pabrik Shanghai.
  • Memisahkan sistem kantor dan membatasi akses data karyawan di China ke unit global lainnya.

Langkah memisahkan bisnis China tentu menjadi dilema besar. Pabrik Gigafactory Shanghai merupakan fasilitas paling produktif milik Tesla secara global dengan kapasitas produksi melampaui 950.000 kendaraan per tahun. Pabrik ini menyumbang lebih dari separuh total pengiriman global Tesla dan menjadi basis ekspor utama ke Eropa, Kanada, hingga Asia-Pasifik.

Tak hanya itu, China merupakan pasar terbesar kedua Tesla setelah AS. Berkat dukungan lebih dari 400 pemasok lokal di China, Tesla mampu menekan biaya manufaktur Model 3 dan Model Y ke tingkat terendah.

Sinyal Merger Masih Menggantung

Awal bulan ini, Musk sebenarnya tidak menutup pintu rapat-rapat terkait potensi penggabungan dua raksasa miliknya yang masing-masing bernilai lebih dari US$1 triliun tersebut, mengingat makin tingginya tumpang tindih (overlap) teknologi di antara keduanya.

Presiden sekaligus COO SpaceX, Gwynne Shotwell, juga sempat mengisyaratkan hal senada. Menurutnya, menyatukan kedua entitas tersebut bisa menyederhanakan rantai manajemen.

"Langkah itu mungkin bisa membuat hidup Elon sedikit lebih mudah," ujar Shotwell kepada CNBC International pada Juni lalu.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Elon Musk Mengaku Tobat Setelah Kerajaan Bisnisnya Hancur Lebur


Most Popular
Features