Iran Bom AS Pakai Satelit China, Beijing Sebut Motif Tersembunyi

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
17 April 2026 10:10
People stand next to a vehicle as smoke rises in the Fujairah oil industry zone following a fire caused by debris after interception of a drone by air defenses, according to the Fujairah media office, amid the U.S.-Israel conflict with Iran, in Fujairah, United Arab Emirates, March 3, 2026. REUTERS/Amr Alfiky
Foto: REUTERS/Amr Alfiky

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran dilaporkan menggunakan satelit mata-mata buatan China untuk membantu menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Satelit itu disebut dapat memberikan kemampuan baru bagi Teheran dalam mengarahkan serangan drone dan rudal ke sejumlah fasilitas militer AS.

Laporan Financial Times menyebut satelit bernama TEE-01B itu dibangun dan diluncurkan oleh perusahaan China, Earth Eye, sebelum kemudian diam-diam diakuisisi oleh Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada akhir 2024. Informasi tersebut berasal dari dokumen militer Iran yang bocor.

Dalam dokumen tersebut, komandan militer Iran mengarahkan satelit untuk memantau berbagai pangkalan utama militer Amerika Serikat. Pemantauan dilakukan menggunakan daftar koordinat bertanda waktu, citra satelit, hingga analisis orbit.

Citra satelit itu diambil pada Maret, tepat sebelum dan sesudah serangan drone dan rudal terhadap sejumlah lokasi militer AS di kawasan Timur Tengah. Hal ini yang lantas memunculkan dugaan bahwa satelit tersebut digunakan untuk membantu proses penargetan.

Sebagai bagian dari kerja sama tersebut, IRGC juga memperoleh akses ke jaringan stasiun bumi komersial milik Emposat, perusahaan layanan kontrol satelit berbasis Beijing. Jaringan Emposat dilaporkan membentang di Asia, Amerika Latin, dan sejumlah wilayah lainnya.

Satelit itu dilaporkan memotret Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi pada 13 hingga 15 Maret. Pada 14 Maret, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa pesawat Amerika Serikat di pangkalan tersebut terkena serangan.

Selain itu, satelit juga memantau Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, area dekat pangkalan Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain, serta bandara Erbil di Irak. Pemantauan tersebut terjadi berdekatan dengan waktu serangan yang diklaim dilakukan oleh IRGC di lokasi-lokasi tersebut.

Kementerian Luar Negeri China membantah laporan tersebut. Mereka menyebut tuduhan itu tidak benar dan menuding ada pihak yang sengaja menyebarkan rumor untuk mengaitkan Beijing dengan konflik tersebut.

"China dengan tegas membantah praktik semacam ini yang didorong oleh motif tersembunyi," ujar pihak kementerian kepada Reuters yang dikutip dari Straits Times, Jumat (17/4/2026).

Gedung Putih dan sejumlah lembaga AS, termasuk CIA dan Pentagon, belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.

Namun, juru bicara Gedung Putih merujuk pada pernyataan Trump yang memperingatkan China akan menghadapi "masalah besar" jika memberikan sistem pertahanan udara kepada Iran.

(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pasang Taruhan Sehari Sebelum Iran Dibom, 6 Orang Untung Rp 27 Miliar


Most Popular
Features