Makin Banyak Startup Gulung Tikar di RI, Ini Daftar Terbaru

Tech - Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
30 June 2022 09:45
Terkuak! Biang Kerok Bisnis Startup Gagal di Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Perjalanan bisnis sejumlah perusahaan rintisan atau startup bukan menjadi perkara mudah.

Beberapa mampu melejit bahkan mencapai status sebagai unicorn atau decacorn. Tapi tak sedikit juga yang memutuskan untuk gulung tikar di tengah jalan.

Ada berbagai alasan perusahaan rintisan itu akhirnya gulung tikar. Juru bicara Kementerian Kominfo, Dedy Permadi, mengatakan di Indonesia startup mengalami kegagalan karena faktor manajerial. Misalnya kurang pengalaman dan visi jelas dari pendirinya.


Mengutip laporan Failory, dia menambahkan alasan lainnya adalah fokus yang kurang dalam menjalankan bisnis jadi penyebab gagalnya startup di Indonesia.

Selain itu, menurut laporan dari CB Insights dua alasan utama startup mengalami kegagalan adalah karena kehabisan dana [ran out of cash] dan tidak adanya kebutuhan pasar [no market need],"

Adapun berikut daftar startup di Indonesia yang harus gulung tikar karena berbagai alasan.

1. Airy Rooms

Airy Rooms (Dok. Airy Rooms)Foto: Airy Rooms (Dok. Airy Rooms)

Airy Rooms resmi menghentikan operasionalnya pada 31 Mei 2020. Pandemi membuat bisnis hotel agregator berhenti beroperasi.

Menurut CEO Louis Alfonso Kodoatie, penghentian operasional Airy Rooms terjadi karena mempertimbangkan beberapa hal. Termasuk di antaranya terkait kondisi pasar yang hampir tumbang saat Covid-19 menghantam.

2. Stoqo

Startup ini berjalan dengan konsep business-to-business (B2B) dan memasok bahan makanan segar, seperti cabai, telur hingga ampas kopi ke gerai makanan atau restoran. Pada 22 April 2020, Stoqo yang menjual sembako secara online ini menutup layanannya.

Pandemi menghantam keberlanjutan bisnis ini. "Dengan berat hati, kami mengumumkan bahwa STOQO telah berhenti beroperasi," tulis perusahaan dalam website-nya.

Stoqo dilaporkan memiliki 250 pegawai. Berbagai investor juga telah mendanai perusahaan termasuk Alpha JWC Ventures, Mitra Accel, Insignia Ventures Partners dan Monk's Hill Ventures.

3. Qlapa

Tak hanya alasan pandemi, ketidakmampuan dalam bersaing dengan kompetitor lain juga menjadi penyebab startup gulung tikar. Hal ini dialami oleh startup Qlapa. Didirikan tahun 2015, startup ini hanya mampu bertahan 4 tahun karena tidak dapat bersaing dengan e-commerce lain, seperti Tokopedia dan Bukalapak.

"Hampir 4 tahun yang lalu, kami memulai Qlapa dengan misi memberdayakan perajin lokal. Banyak pasang surut yang kami alami dalam perjalanan yang luar biasa ini. Kami sangat berterima kasih atas semua tanggapan positif dari para penjual, pelanggan, dan media. Dukungan yang kami terima sangat luar biasa dan membesarkan hati," tulis manajemen Qlapa merilis pernyataan di situs resminya.

4. Sorabel

Sorabel menutup perusahaannya pada 30 Juli 2020. Dikabarkan alasan di balik penutupan itu karena kehabisan modal dan kesulitan menggalang pendanaan baru saat pandemi.

"Oleh karena proses likuidasi yang ditempuh, hubungan kerja harus berakhir di tahap ini untuk semua orang tanpa terkecuali, tepatnya efektif di tanggal 30 Juli 2020. Saya yakin tidak ada satunya pun orang yang berharap hal ini untuk terjadi," tulis para pemimpin pada karyawan Sorabel.

Seperti diketahui hal serupa bahkan tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Di luar negeri banyak juga perusahaan-perusahaan rintisan yang terpaksa harus gulung tikar karena berbagai alasan.

Kondisi ini sangat kontras dengan yang terjadi saat 2021, saat banyak banyak investor yang berbondong-bondong untuk membanjiri perusahaan-perusahaan startup ini dengan dana segar.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ramai-ramai Startup PHK & Tutup, Inikah Penyebabnya?


(dem)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading