Astronaut Nangis Lihat Bumi dari Antariksa, Bumi Bahaya?

Tech - npb, CNBC Indonesia
02 June 2022 08:25
Petugas pemadam kebakaran Kabupaten Sonoma Utara berjalan menuju api Geyser, yang terletak di puncak Geyser Peak di atas Alexander Valley di Sonoma County, California. Sabtu (22/1/2022). Wilayah ini telah mengalami curah hujan di atas rata-rata musim dingin  dan terakhir bulan Puncak Geyser tertutup salju beberapa inci. Pola angin lepas pantai berdampak pada seluruh negara bagian. (Kent Porter/The Press Democrat via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Astronaut NASA, Megan McArthur mengatakan sedih melihat keadaan Bumi dari stasiun antariksa International Space Station (ISS). Ini dikarenakan kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah Bumi beberapa waktu terakhir.

Kejadian tersebut bukan hanya terjadi di Amerika Serikat (AS) saja. Kebakaran yang terjadi di beberapa wilayah ini bisa terlihat dengan jelas dari luar angkasa.

"Kami sangat sedih melihat kebakaran di sebagian besar Bumi, bukan hanya Amerika Serikat," ujar Megan McAthur dalam wawancaranya belum lama ini dengan Insider dan dikutip dari Futurism, dikutip Kamis (2/6/2022).


Para ilmuwan telah memperingatkan soal kejadian kebakaran itu, ungkapnya. Megan juga tak lupa mengatakan masalah tersebut bisa selesai dengan kerja sama dari seluruh komunitas global.

"Selama bertahun-tahun para ilmuwan dunia telah membunyikan bel alarm ini. Ini adalah peringatan bagi seluruh komunitas global. Butuh seluruh komunitas global untuk menghadapi ini dan mengatasi tantangan tersebut," jelasnya.

Kebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu itu menimpa sejumlah wilayah dari Siberia, Yunani, Spanyol hingga Pasifik Barat Laut di Amerika Serikat. Berdasarkan citra satelit, kebakaran-kebakaran itu membentuk awan asap.

Turki, salah satu wilayah yang juga terkena bencana kebakaran, dilaporkan sangat terpukul. AS juga melakukan upaya perekrutan petugas pemadaman kebakaran yang cukup.

Sementara itu hutan hujan di Brasil terancam deforestasi. Dalam riset Simon Evans dari Carbon Brief mengatakan kejadian itu sudah terjadi dalam beberapa dekade terakhir.

Deforestasi dilakukan untuk lahan bisa dialihgunakan, seperti pertanian, peternakan, dan kawasan tinggal atau perkotaan. Penggundulan hutan di negara itu dijalankan sebagai cara membuka lahan untuk menanam tanaman komersial misalnya karet, gula, dan tembakau.

Bencana makin parah pada paruh terakhir abad ke-20 untuk menciptakan peternakan sapi, perkebunan tanaman skala industri. Misalnya kedelai, kelapa sawit, dan kayu.

Dalam sebuah foto udara memperlihatkan lahan hutan terus menyusut. Amazon juga lebih banyak melepaskan Co2, daripada yang telah diserap dalam 10 tahun terakhir.

Sebanyak 40% dari hutan juga menjadi sabana kering, ini akan terjadi apabila hujan turun karena perubahan iklim. Sabana yang didominasi padang rumput cenderung ada di wilayah dengan iklim sedang dan curah hujan lebih sedikit dari hutan hujan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Hutan Amazon Mendekati Kematian, Kondisi Bumi di Ujung Tanduk


(npb)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading