Astronaut Nangis Lihat Bumi dari Antariksa, Ada Apa?

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
25 May 2022 08:35
Petugas pemadam kebakaran Kabupaten Sonoma Utara berjalan menuju api Geyser, yang terletak di puncak Geyser Peak di atas Alexander Valley di Sonoma County, California. Sabtu (22/1/2022). Wilayah ini telah mengalami curah hujan di atas rata-rata musim dingin  dan terakhir bulan Puncak Geyser tertutup salju beberapa inci. Pola angin lepas pantai berdampak pada seluruh negara bagian. (Kent Porter/The Press Democrat via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa waktu lalu, Megan McArthur yang merupakan astronaut NASA menangis melihat Bumi dari stasiun antariksa Internasional Space Station (ISS). Dia sedih karena adanya kebakaran di beberapa wilayah di Bumi.

Ternyata kebakaran hutan itu bisa terlihat dengan mudah dari luar angkasa. Kejadian itu menimpa bukan hanya di Amerika Serikat saja, ungkap McArthur.

Bahkan kebakaran tersebut bisa terlihat dengan mudah dari luar angkasa. "Kami sangat sedih melihat kebakaran di sebagian besar Bumi, bukan hanya Amerika Serikat," ujar McAthur dalam wawancaranya dengan Insider dan dikutip dari Futurism, dikutip Rabu (25/5/2022).


Sebenarnya, dia mengatakan para ilmuwan telah memperingatkan kebakaran hutan itu. Untuk menyelesaikan persoalan ini, McArthur menyebut membutuhkan kerja sama dari seluruh komunitas global.

"Selama bertahun-tahun para ilmuwan dunia telah membunyikan bel alarm ini. Ini adalah peringatan bagi seluruh komunitas global. Butuh seluruh komunitas global untuk menghadapi ini dan mengatasi tantangan tersebut," jelasnya.

Kebakaran hutan ini terjadi beberapa waktu lalu dan terlihat dari citra satelit berbentuk awan asap. Daerah yang mengalaminya mulai dari Siberia, Yunani, Spanyol hingga Pacific Northwest.

Turki dilaporkan cukup terpukul karena bencana kebakaran itu. AS juga disebut melakukan upaya merekrut petugas kebakaran dengan jumlah cukup.

Sementara itu hutan hujan di Brazil mengalami ancaman deforestasi. Simon Evans dari Carbon Brief mengatakan kejadian tersebut telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Sebagai informasi deforestasi dilakukan agar lahan dapat dialihgunakan misalnya pertanian, peternakan, bahkan kawasan tinggal atau perkotaan. Kejadian di Brasil dijalankan kolonialis sebagai cara membuka lahan untuk menanam tanaman komersial seperti karet, gula, dan tembakau.

Ini dipercepat dalam paruh terakhir abad 20 yakni sebagai lahan peternakan sapi, perkebunan tanaman skala industri. Misalnya adalah kedelai, kelapa sawit dan penebangan.

Parahnya terlihat dari foto udara, lahan terus berkurang dari waktu ke waktu. Amazon jadi lebih banyak melepaskan Co2 daripada menyerapnya dalam 10 terakhir.

Ancaman lainnya adalah 40% hutan juga berubah menjadi sabana kering. Ini terjadi jika hutan turun karena perubahan iklim. Sabana berada di wilayah dengan iklim sedang dan curah hujan lebih sedikit.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Hutan Amazon Mendekati Kematian, Kondisi Bumi di Ujung Tanduk


(npb/npb)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading