Terbongkar! Ini Alasan Gejala Covid Omicron Tak Separah Delta

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
31 January 2022 16:50
Gambar Cover, Omicron Merajalela

Jakarta, CNBC Indonesia - Covid-19 varian omicron menyebar dengan cepat di Indonesia. Kementerian Kesehatan (kemenkes) mencatat hingga Minggu (30/1/2022), total kasus omicron di tanah air sudah mencapai 2.156 kasus.

Berdasarkan laporan dari berbagai dunia, gejala Covid-19 varian omicron tak separah dari gejala varian Delta. Diketahui gejala yang diamani pasien Delta berupa demam, batuk, sesak nafas, kelelahan nyeri otot, sakit kepala, kehilangan indra penciuman (anosmia)), sakit tenggorokan, muntah, diare hingga hidung tersumbat atau pilek.

Adapun gejala omicron mirip seperti gejala flu biasa. Lainnya, batuk, fatique, hidung tersumbat atau rirone, demam, mual atau muntah, sesak nafas, diare dan anosmia atau ageusia.


Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Erlina Burhan mengungkapkan dari studi HKUMed Hong Kong menyebutkan varian omicron memiliki laju infeksi dan replikasi di bronkus (saluran pernafasan) 70 kali lebih tinggi dari varian Delta dan varian awal.


"Ini lah kenapa gejala-gejala omicron itu banyaknya berurusan dengan saluran nafas. Apa itu, batuk, nyeri tenggorok, gatal di tenggorok, kemudian hidung tersumbat, pilek atau rinore," ujarnya dalam Seminar Daring berjudul "Super-immunity and Implication on New Variant of Covid-19", dikutip Senin (31/1/2022).

Sementara itu laju infeksi dan replikasi Omicron pada paru dilaporkan 10 kali lebih rendah dari varian awal. Itulah sebabnya jarang ditemui gejala seperti sesak napas dan demam tinggi.

"Inilah yang bisa menjelaskan kenapa gejala-gejala yang melibatkan radang di paru seperti sesak nafas, demam yang tinggi, itu kurang karena memang replikasi di jaringan paru 10 lebih rendah dibandingkan yang lain," jelas Erlina.

Erlina Burhan menambahkan walaupun sebagian besar Omicron ini ringan-ringan saja tetapi bagi para lansia, bagi para yang orang yang belum pernah divaksin, bagi yang punya komorbid dan anak-anak terutama yang belum divaksin akan lebih berat.

"Kita mendengarkan laporan kematian dari Inggris, AS, Jerman, Belanda terus ada setiap harinya karena Omicron ini sebagian kecil menimbulkan keparahan penyakit. Jadi dikatakan antara 0,03% hingga 1%," jelasnya.

Oleh karena itu vaksinasi harus terus digencarkan, masyarakat yang belum divaksin harus segera divaksin penuh. Mereka yang sudah divaksin penuh enam bulan sebelumnya harus segera disuntik booster vaksin.

"Vaksinasi tetap penting, omicron ini bisa dilumpuhkan oleh antibodi dan kemampuannya lebih tinggi pada pasien yang telah divaksin," terangnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bukan Batuk, Ini Gejala Tak Biasa Covid-19 Varian Omicron!


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading