Ramai Orang Beli Tanah di Dunia Virtual Metaverse, Buat Apa?

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
13 January 2022 15:15
Bisnis Metaverse Paris Hilton, Pulau Dunia Maya Paris World (Reuters)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebagian orang geleng-geleng kepala ketika sejumlah investor dan artis memutuskan untuk membeli kavling tanah di Metaverse. Padahal Metaverse adalah dunia virtual dan tidak ada fisik tanah yang dimiliki.

CEO Token.com Andrew Kiguel mencoba menjelaskan fenomena ini. Menurutnya Metaverse merupakan bentuk selanjutnya dari media sosial. Di sana pengguna bisa pergi ke karnaval, konser musik hingga museum.

Sejumlah artis termasuk Justin Bieber, Ariana Grande, dan DJ Marshmello mengadakan pertunjukan di dunia virtual itu menggunakan virtual. Bahkan Paris Hilton menyelenggarakan pesta tahun baru di pulau virtual pribadinya. Ini bisa menjadi ladang bisnis baru bagi pemilik lahan.


"Area di mana orang-orang berkumpul pasti akan jauh lebih berharga daripada area yang tidak memiliki acara apa pun," ujar Andrew Kiguel. "Area tempat berkumpul ini menjadi sangat berharga bagi pengiklan dan peritel dan akan berusaha untuk menemukan cara masuk ke sana guna mengakses demografi itu."

Alasan lainnya berinvestasi dengan membeli tanah di Metaverse adalah potensi cuan dari kenaikan harga. Perusahaan Andrew Kiguel sendiri baru-baru ini membeli lahan digital di Decentraland, salah satu dunia Metaverse populer, senilai US$2,5 juta.

"Harganya sudah naik 400% hingga 500% dalam beberapa bulan terakhir," jelas Andrew Kiguel, seperti dilansir dari CNBC International, Kamis (13/1/2022).

Dunia Metaverse populer lainnya adalah Sandbox, tempat perusahaan pengembang real estate virtual Junine Yorio bernama Republic Realm menghabiskan US$4,3 juta untuk sebidang lahan virtual.

Junine Yurio mengungkapkan bahwa perusahaan telah menjual 100 pulau pribadi virtual tahun lalu masing-masing seharga US$15.000. "Saat ini harga dari pulau-pulau digital itu telah menjadi US$300.000, yang kebetulan sama dengan harga rata-rata rumah di Amerika," ungkapnya.

Alasan selanjutnya soal kesenangan. Misalnya, seseorang selebriti sedang membangun rumah virtual Metaverse, dan ada seseorang yang berani membayar mahal untuk menjadi tetangga. Hal ini bisa saja terjadi di dunia virtual tetapi sulit di dunia nyata.

Kesenangan lainnya, bisa saja pemilik lahan memperbaharui bangunan, dekorasi hingga isinya dengan cepat bila sudah bosan dengan biaya yang lebih murah bila kita melakukannya di dunia nyata.

Patut diperhitungkan juga soal pengembangan yang dilakukan oleh para perusahaan teknologi untuk menyentuh Metaverse yang akan membuat peluang cuan lebih besar.

Misalnya Meta yang sebelumnya bernama Facebook, sedang mengembangkan dunia imersif 360 derajat yang akan diakses orang melalui kacamata virtual reality (VR) Oculus Meta.

Grayscale, perusahaan pengelola aset kripto, baru-baru ini mengeluarkan laporan yang menyebutkan dunia digital tumbuh menjadi bisnis senilai US$1 triliun dalam waktu dekat.

Beli Lahan di Metaverse Investasi Berisiko

Meski menawarkan cuan yang besar, membeli lahan di Metaverse harus dipertimbangkan dengan matang. Para investor sebaiknya harus mempertimbangkan semua risiko terburuk dan jangan hanya melihat dari sisi cuan investasinya.

"Hal ini sangat, sangat berisiko. Anda hanya boleh menginvestasikan uang Anda jika siap kehilangan semuanya," ujar Janine Yorio. "Ini sangat spekulatif. Ini berbasis blockchain dan seperti yang kita tahu, kripto sangat fluktuatif. Tetapi ini juga bisa sangat bermanfaat."


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading