NASA Tabrak Asteroid untuk Selamatkan Bumi, Hasilnya?

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
25 November 2021 07:20
In this image provided by NASA, a SpaceX Falcon 9 rocket with the Double Asteroid Redirection Test, or DART, spacecraft onboard, sits during sunrise, Tuesday, Nov. 23, 2021, at Space Launch Complex 4E, Vandenberg Space Force Base, Calif. The A spacecraft is scheduled to launch Tuesday night on a collision course with an asteroid in the first test of whether Earth can be protected from a potentially disastrous impact by slightly altering the trajectory of a space rock.  (Bill Ingalls/NASA via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) meluncurkan misi penghancur asteroid. Diharapkan dengan cara ini bisa menyelamatkan Bumi untuk mengubah arah obyek berbatu tersebut.

Misi ini bernama Double Asteroid Redirection Test (DART) yang bernilai US$330 juta. Menumpang di atas roket SpaceX, DART telah meluncur untuk menjalankan misinya.

DART lepas landas dari Vandenberg Space Force Base California AS pada Selasa (23/11/2021) pukul 22:21 waktu setempat, dikutip Al Jazeera, Kamis (25/11/2021).


DART akan mengubah lintas asteroid bernama Dimorphos dengan ukuran selebar 160 meter. Dimorphos diketahui juga mengorbit pada asteroid dengan ukuran lebih besar bernama Didymos berdiameter 762 meter dan keduanya juga mengelilingi Matahari.

DART sendiri merupakan kotak berukuran kulkas besar yang memiliki panel surya sebesar limosin pada dua sisinya. Tabrakan itu akan terjadi dengan kecepatan lebih dari 24 ribu kilometer per jam.

Infografis yang menunjukkan ukuran dua asteroid dalam sistem Didymos relatif terhadap beberapa objek di Bumi. (NASA/Johns Hopkins APL)Foto: Infografis yang menunjukkan ukuran dua asteroid dalam sistem Didymos relatif terhadap beberapa objek di Bumi. (NASA/Johns Hopkins APL)

Namun hasil misi ini tidak bisa langsung dirasakan. Karena dampaknya baru terjadi pada kuartal ketiga 2022, saat asteroid itu berjarak 11 juta kilometer dari Bumi.

DART adalah misi terbaru NASA untuk melakukan eksplorasi dan berinteraksi dengan asteroid. Sebelumnya lembaga tersebut juga meluncurkan penyelidikan dan perjalanan ke kluster asteroid Trojan, yang mengorbit dekat Jupiter.

Sementara itu pesawat OSIRES-REx dalam perjalanan pulang. Pesawat itu membawa sampel Bennu yang dikumpulkan Oktober lalu.

Sebagai informasi, Dimorphos bukan termasuk asteroid yang mengancam Bumi. Namun memang termasuk dalam obyek dekat Bumi atau Near-Earth Objects (NEOs) dengan jarak 48 juta kilometer.

Di antariksa ada 10 ribu asteroid dekat Bumi dengan ukuran yang lebih besar. Namun tidak ada yang berpotensi menabrak Bumi bahkan dalam 100 tahun ke depan.

Para ilmuwan berspekulasi asteroid berukuran 140 meter akan menyerang Bumi sekali dalam 20 ribu tahun. Sementara asteroid 10 km atau lebih besar akan menabrak Bumi, seperti 66 juta tahun lalu dan memusnahkan termasuk dinosaurus, tiap 100-200 juta tahun.


[Gambas:Video CNBC]

(npb/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading