Fenomena Sinar Matahari Putih 'Surya Pethak'

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
15 September 2021 08:50
The diamond ring effect appears as the solar eclipse totality ends Monday, Aug. 21, 2017, over the Orchard Dale historical farm near Hopkinsville, Ky. The location, which is in the path of totality, is also at the point of greatest intensity. (AP Photo/Mark Humphrey)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam ramalan Sabda Palon Noyo Genggong disebutkan ada tanda pergantian ke zaman baru. Namanya Surya pethak di mana sinar Matahari yang biasanya kemerahan saat terbit hingga tenggelam berubah memutih. Fenomena ini terjadi selama 7 hingga 40 hari.

Apa penjelasan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengenai hal itu?

Peneliti Lapan Andi Pangerang menjelaskan sinar Matahari terdiri dari spektrum warna yang memiliki gelombang yang berbeda-beda, yang mana ungu memiliki panjang gelombang terpendek dan merah memiliki panjang gelombang terpanjang.


Ketika sinar Matahari menyentuh atmosfer Bumi, spektrum dengan panjang gelombang yang lebih panjang seperti merah, kuning, jingga akan dengan mudah melewati atmosfer, sementara panjang gelombang yang lebih pendek seperti biru dan ungu dihamburkan atmosfer ke segala arah.

"Itulah penyebab Matahari dan langit tampak kemerahan ketika terbit dan tenggelam dan mengapa saat siang Matahari berwarna putih dan langit berwarna biru," ujar Andi Pangerang seperti dikutip dari situs Lapan, Rabu (15/9/2021).

Terkait fenomena Surya Pethak, Matahari yang merona putih selama siang hari sejak terbit hingga tenggelam, Andi Pangerang menduga hal tersebut kemungkinan karena kabut awan yang dapat menghalangi sinar Matahari yang melalui atmosfer. Ini ditimbulkan oleh letusan gunung berapi maupun perubahan sirkulasi air laut yang dapat meningkatkan penguapan uap air.

"Sangat kecil kemungkinan kabut awan yang menyelimuti permukaan Bumi ditimbulkan oleh penurunan aktivitas Matahari berkepanjangan seperti yang terjadi pada tahun 1645 hingga 1715." ungkapnya.

Andi menambahkan fenomena Surya Pethak tidak akan terjadi setidaknya jika dikaitkan dengan aktivitas Matahari. Akan tetapi, fenomena ini masih dapat dimungkinkan terjadi oleh letusan gunung berapi dan perubahan siklus air laut yang hingga saat ini masih sulit diprediksi oleh para ilmuwan vulkanologi dan oseanografi.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading