Bos BCA Bicara Masa Depan Bank Digital di Indonesia

Tech - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
10 August 2021 18:00
President director of PT Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja talks during a meeting in Jakarta, Indonesia, July 24, 2019. REUTERS/Willy Kurniawan

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan bank digital di tanah air terus menggeliat. Sejumlah bank-bank besar pun turut menyiapkan bank digital agar tak ketinggalan 'kereta'.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), Jahja Setiaatmadja mengungkapkan, tren bank digital sudah menjadi keniscayaan, terutama dengan perubahan gaya hidup generasi muda yang menginginkan layanan perbankan yang mudah dan instan. Sehingga, hal ini melahirkan bank digital di tanah air, termasuk Bank Digital BCA yang juga fokus menyasar segmen anak muda.

"Memang kaum milenial ini ingin yang instan, ini terpenuhi dengan munculnya nama-nama bank dengan predikat digital," kata Jahja, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Selasa (10/8/2021) di program Money Talks.


Jahja menambahkan, tren bank digital sudah menjadi tren di beberapa negara, namun, pemain besar bank digital yang bertahan tak lebih dari tiga bank saja.

Dia mencontohkan, Korea Selatan dengan pendapatan perkapita mencapai US$ 33,790 pada 2019 lalu, saat ini hanya mempunyai satu bank digital, KakaoBank yang sudah mencatatkan keuntungan.

"Di Jepang ada Rakuten, income perkapita tinggi sekali tapi hanya ada 1-2 bank yang berhasil. Thailand, ada satu. Artinya, di setiap negara, at the end of the day, itu gak akan lebih dari tiga, menurut saya," kata Jahja menambahkan.

Tak hanya itu, dalam konteks bank konvensional di Indonesia, Jahja mencontohkan, di era liberalisasi perbankan swasta di tanah air sekitar tahun 1988, kala itu, mantan menteri Keuangan J.B Sumarlin membebaskan perijinan bank. Sehingga, pada tahun 1990an, Indonesia sempat memiliki sebanyak 200 bank, namun jumlahnya rontok saat krisis moneter di tahun 1998.

"Awal tahun 1990, kita punya 200 bank lebih, apa yang terjadi 1998, secara alam terfilterisasi, sehingga sekarang mungkin bank-bank besar 7-8 bank sudah menguasai sekitar 60-70% dari market share. Jadi, bank digital juga demikian saya pikir, hanya 3 yang punya kemampuan untuk berlanjut," kata Jahja menambahkan.

Untuk itu, ke depannya, kata Jahja, bank digital BCA, yang juga akan disiapkan secara matang untuk melantai ke bursa saham, harus teruji secara fundamentalnya sehingga menarik bagi investor.

"Namanya investasi dalam saham, ini bicara jangka panjang, gak bicara sebulan-dua bulan, setahun dua tahun, tapi akan forever. Nah, ujung-ujungnya kalaus sudah forever, ya performance," tandas Jahja.




[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Prediksi Bos BCA: Hanya Ada 3 Bank Digital Besar di RI


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading