Sudah Divaksin Tapi Masih Kena Covid-19? Ini Penjelasan Ahli

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
10 August 2021 15:55
A health worker takes a nasal swab sample of a man to test for COVID-19 in Mumbai, India, Monday, April 5, 2021. India reported its biggest single-day spike in confirmed coronavirus cases since the pandemic began Monday, and officials in the hard-hit state home to Mumbai are returning to the closure of some businesses and places of worship in a bid to slow the spread. (AP Photo/Rafiq Maqbool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak kasus infeksi Covid-19 ternyata dialami oleh orang yang telah mendapatkan dua dosis vaksin. Menurut para ahli hal tersebut terjadi karena beberapa hal.

Misalnya fakta jika tidak ada vaksin yang digunakan di AS maupun Eropa yang efektif 100% untuk mencegah infeksi. Selain itu juga beredarnya varian virus seperti Delta yang membuat rumit kemanjuran vaksin.

Sementara itu juga data yang tidak lengkap mengenai berapa lama kekebalan setelah vaksinasi dilakukan, seperti dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (10/8/2021).


Ahli Virologi Fakultas Kedokteran Universitas Warwick Inggris, Professor Lawrence Young mengatakan kasus Covid-19 pada orang yang telah divaksin menjadi pengingat tidak ada vaksin yang 100% efektif. "Akan selalu ada proporsi individu yang rentan terhadap infeksi dan penyakit," kata dia.

Selain itu dia menyebutkan dua faktor lain yang mempengaruhi efektivitas vaksin. Pertama adalah menurunnya kekebalan dan belum ada yang mengetahui berapa lama kekebalan yang diinduksi vaksin bertahan.

Sementara alasan lain adalah terkait infeksi terobosan pada individu yang divaksinasi karena varian Delta memunculkan diskusi akan adanya vaksin dosis ketiga atau vaksinasi booster.

Sejumlah penelitian pun mencoba melihat keefektifan vaksin. Misalnya data awal di Israel yang diterbitkan pada akhir Juli menemukan vaksin Pfizer-BioNTech Covid-19 hanya 40,5% efektif dalam mencegah penyakit bergejala.

Selain itu juga menurut data menunjukkan pemberian dua dosis vaksin memberikan perlindungan kuat pada penyakit parah dan rawat inap.

Selain itu efektivitas vaksin Pfizer-BioNTech juga menurun ke angka 16% untuk melawan penyakit simtomatik bagi mereka yang mendapatkan dua dosis suntikan pada bulan Januari lalu. Sementara orang yang mendapatkan vaksin lengkap bulan April tingkat kemanjurannya mencapai 79%.

Angka berbeda ditunjukkan penelitian di Inggris pada April hingga Mei. Setelah dua dosis Pfizer-BioNTech menunjukkan keefektifan 88% melawan Penyakit simtomatik yang disebabkan oleh varian Delta.

Namun memang membandingkan hasil penelitian sulit mengingat adanya perbedaan sifat program vaksinasi di kedua negara, misalnya Israel menyuntikkan vaksin Pfizer kepada orang dewasa dan Inggris fokus untuk usia muda. Adapula perbedaan tanggal studi, rezim pengujian dan juga kelompok usia.

Data Inggris juga menunjukkan setelah orang mendapatkan dua dosis vaksin Pfizer-BioNTech tetap efektif 96% Terhadap rawat inap dari varian delta. Selain itu juga ditemukan dua dosis vaksin Oxford-AstraZeneca 92% efektif untuk mencegah rawat inap.

Sementara Pfizer-BioNTech merilis data kemanjuran vaksin awal setelah uji klinis tahun lalu sebesar 95%.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pasien Positif Covid-19 Alami Sesak Nafas, Ini Penjelasannya


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading