Sedih.. Tsunami Covid India Serang Bocah, Bergejala Parah

Tech - Muh Iqbal, CNBC Indonesia
19 April 2021 17:20
Veena Gupta, right, performs stretch exercises during a class for underprivileged children she conducts with her husband Virendra Gupta, in New Delhi, India, on Sept. 3, 2020. It all began when Veena's maid complained that with schools shut, children in her impoverished community were running amok and wasting time. The street-side classes have grown as dozens of children showed keen interest. Now the Guptas, with help from their driver, teach three different groups three times a week, morning and evening. As most schools in India remain shut since late March when the country imposed a nationwide lockdown to curb the spread of COVID-19, many switched to digital learning and taking classes online. (AP Photo/Manish Swarup)

Jakarta, CNBC Indonesia - India tengah menderita. Pasalnya, gelombang kedua Covid-19 terjadi di Negara yang dipimpin Narendra Modi itu.

Terjadi lonjakan warga yang terinfeksi virus yang ditemukan pertama kali di Wuhan China ini. Kejadian ini bahkan digambarkan seperti tsunami.

Merujuk data Worldometer, Senin (19/4/2021), jumlah kasus positif Covid-19 di India sudah tembus 15,06 juta kasus. India kini menjadi negara dengan kasus Covid-19 terbesar kedua di dunia. Sebelumnya posisi ini ditempati oleh Brasil. Peringkat pertama masih Amerika Serikat (AS) dengan 32,4 juta kasus.

Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi menghadapi ancaman pemakzulan dari beberapa kubu politik internalnya sendiri. Ia dianggap gagal dalam mengendalikan penyebaran virusCovid-19 di negara itu.

Tak hanya dewasa, kelompok anak-anak di India kini juga menderita gejala yang serius.

Para dokter telah mewanti-wanti orang tua untuk tidak membawa anak mereka keluar rumah karena gelombang kedua diprediksi lebih berbahaya dari sebelumnya.

Sebelumnya, virus Corona menunjukkan efek yang sangat ringan atau tidak ada efek pada anak-anak. Namun, dalam gelombang kedua, virus tersebut menjadi lebih parah untuk anak-anak maupun orang dewasa di bawah 45 tahun.

"Banyak kasus baru infeksi COVID-19 pada anak-anak datang pada gelombang kedua ini dan jumlahnya jauh, jauh lebih tinggi daripada sebelumnya," kata Dr Krishan Chugh, Direktur dan kepala departemen pediatri di Fortis Memorial Research Institute, Gurgaon, dikutip dari CNBC TV.

Pada kebanyakan anak yang terkena COVID-19, gejala yang muncul adalah demam ringan, batuk, pilek, dan masalah perut. Bahkan ada yang mengeluh badan sakit, sakit kepala, diare dan muntah-muntah.

"Ada beberapa kasus yang meningkat menjadi pneumonia, dan membutuhkan oksigen serta bantuan pernapasan lainnya," kata Dr Dhiren Gupta, dokter spesialis anak konsultan senior di Rumah Sakit Sir Ganga Ram di New Delhi

Beberapa anak juga melaporkan komplikasi yang lebih parah seperti sindrom inflamasi multisistem (MIS-C) - kondisi peradangan langka dengan demam terus-menerus. Biasanya terjadi 2-4 minggu setelah timbulnya COVID-19.

"Kasus tsunami COVID-19 yang parah ini telah membanjiri infrastruktur perawatan kesehatan di negara bagian itu," kata Dr Shashank Joshi, anggota gugus tugas Covid Mumbai.



"Kali ini kami melihat orang-orang yang lebih muda antara 20 dan 40 menjadi terkena dampak serius dan bahkan anak-anak sekarang dirawat di rumah sakit dengan gejala yang parah. Kapasitas sistem perawatan kesehatan untuk bertahan semakin menyusut," paparnya kemudian.



[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading