Awas Ribut! UE Blokir Ekspor Vaksin Covid ke Australia

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
06 April 2021 18:40
Vaksin AstraZeneca. (AP/Christophe Ena)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasokan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca ke Australia mengalami gangguan. Pengiriman 3,1 juta dosis ke negara tersebut dikabarkan diblokir oleh otoritas Uni Eropa.

Ekspor yang bermasalah ini akan memperumit kampanye vaksinasi Australia yang sudah mencapai 83%. Dengan inokulasi jauh di bawah Inggris dan AS, Uni Eropa berusaha memblokir ekspor vaksin bulan lalu pada negara dengan angka vaksinasi yang jauh lebih tinggi.

Seorang sumber pemerintahan Australia mengatakan masih mengharapkan mendapatkan sisa 400 ribu vaksin AstraZenea yang sudah dijanjikan sebelumnya. Dia mengatakan sejauh ini hanya menerima 300 ribu.


"Kami belum putus asa namun kami berhenti menghitung mereka dari pasokan yang kami harapkan," kata sumber itu dikutip Reuters, Selasa (6/4/2021).

Hingga hari Selasa, Australia mengonfirmasi pemblokiran dari Uni Eropa berjumlah 250 ribu vaksin. Menurut otoritas setempat insiden ini tidak akan menunda jadwal inokulasi setempat.

Sementara itu AstraZeneca belum merespons permintaan komentar mengenai pemblokiran vaksin oleh Uni Eropa.

Menurut juru bicara Uni Eropa, pihaknya hanya menolak pengiriman 1 dari 491 permintaan ekspor vaksin Covid-19 pada akhir Januari lalu. Sedangkan masih ada tujuh permintaan yang sedang ditinjau.

Namun dia menolak mengatakan salah satu peninjauan adalah milik Australia.

Sementara itu Perdana Menteri Australia, Scott Morrison menyebutkan pemblokiran pengiriman bertanggung jawab atas tidak terpenuhinya penyuntikan vaksin tepat waktu. Dia menyebutkan mengharapkan kedatangan 3,1 juta dosis pada awal Januari lalu.

"Pada awal Januari, kami mengantisipasi ada 3,1 juta vaksin. Vaksin tersebut tidak dipasok ke Australia. Itulah alasannya," ujarnya.

Kabar pemblokiran itu sudah terdengar sejak awal Maret lalu, saat Italia memblokir pengiriman AstraZeneca ke Australia. Saat itu juru bicara Uni Eropa, Kementerian Luar Negeri Italia, dan juru bicara AstraZeneca tidak memberikan komentar.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading