Pandemi, Mastercard dan Visa Tunda Kenaikan Biaya Transaksi

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
17 March 2021 11:29
Kartu Kredit

Jakarta, CNBC Indonesia - Mastercard Inc dan Visa Inc memutuskan menunda menaikkan biaya transaksi yang dibayarkan pedagang Amerika Serikat saat pengguna menggunakan kartu. Rencananya kebijakan ini akan berlaku hingga April tahun depan.

Kedua perusahaan beralasan memutuskan kebijakan itu disebabkan pedagang masih kesulitan selama pandemi Covid-19.

"Menyadari sejumlah pedagang masih menghadapi keadaan yang belum terjadi sebelumnya, kami memutuskan untuk menunda penyesuaian interchange di AS hingga April 2022 mendatang," ungkap pihak Mastercard, dikutip Reuters, Rabu (17/3/2021).


Visa juga sudah angkat bicara mengenai keputusannya. Perusahaan mengatakan tidak akan mengubah tarif selama satu tahun di AS saat ekonomi juga mengalami pemulihan. Interchange fee sendiri merupakan biaya yang dibayarkan pedagang pada bank tiap konsumen menggesek kartunya.

Selama pandemi, konsumen mengalihkan aktivitas pembayaran ke online. Mereka menggunakan kartu saat membeli baju, makanan, bahan makanan dan pengeluaran rekreasi selama mereka di rumah saat pandemi.

Laporan penundaan ini sebelumnya sudah pernah dibocorkan oleh Bloomberg. Media tersebut menyebutkan baik Visa dan Mastercard berencana menunda kenaikan hingga April 2022 mendatang.

Salah satu contoh kenaikan misalnya kartu Visa tradisional senilai US$100, akan naik dari US$1,90 (Rp27.400) menjadi UIS$1,99 (Rp28.700). Sementara Visa Premium menanjak dari US$2,50 (Rp36.100) menjadi US$2,60 (sekitar Rp37.500).

Perubahan ini sebenarnya direncanakan terjadi Apirl lalu namun ditunda hingga tahun ini dan akhirnya dialihkan hingga April tahun depan.

"Kami yakni langkah yang kami ambil akan mendukung pemulihan," kata pihak Visa, dikutip Bloomberg.

Sebelumnya Visa dan Mastercard telah diminta untuk membatalkan kenaikan harga. Permintaan itu dilakukan oleh Senator Dick Durbin dari Illinois dan Perwakilan AS Peter Welch dari Vermont yang menyurati kepala Eksekutif dua perusahaan.

Keduanya berpendapat negara itu masih belum pulih seutuhnya dari pandemi yang hingga saat ini masih juga berlangsung.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading