Varian Baru Virus Corona & Ancaman Kenaikan Kasus Covid-19

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
02 February 2021 14:57
Medical personnel at work in the intensive care unit of the hospital of Brescia, Italy, Thursday, March 19, 2020. Italy has become the country with the most coronavirus-related deaths, surpassing China by registering 3,405 dead. Italy reached the gruesome milestone on the same day the epicenter of the pandemic, Wuhan, China, recorded no new infections. For most people, the new coronavirus causes only mild or moderate symptoms. For some it can cause more severe illness. (Claudio Furlan/LaPresse via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah ahli menyebutkan banyak bahaya adanya varian baru corona. Salah satunya infeksi Covid-19 di bulan ini kemungkinan akan meningkat. Ini prediksi Dr. Nahid Bhadelia, Direktur Medis di Unit Patogen Khusus Boston Medical Center.

"Jika saya bertemu seseorang yang terinfeksi salah satu varian [corona], saya bisa terkena infeksi dari mereka dan saya juga akan menularkannya, artinya lebih banyak infeksi lagi," kata Dr. Nahid Bhadelia, dikutip CNBC Internasional, Selasa (2/2/2021).

Dengan asumsi itu, dia mengatakan akan ada lebih banyak infeksi pada Februari ini dan lonjakan orang di rawat serta kematian di bulan depan.


Sementara itu Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), Dr. Rochelle Walensky mengatakan varian virus baru jadi perhatian besar walaupun di AS kasusnya menurun.

Laporan CDC menyebutkan varian baru dari Inggris, Brasil dan Afrika telah ditemukan di 32 negara bagian. Akhir pekan lalu, ditemukan kasus pertama dari varian Afrika Selatan di Maryland atau jadi yang ketiga diketahui dari jenis baru di AS.

Walaupun ada ketakutan soal varian baru, namun harapan besar tetap bertumpu pada vaksin. Bhadelia menyebutkan angka efikasi atau kemanjuran vaksin menurun karena virus jenis baru itu namun menurutnya masih bisa melindungi orang dari kasus parah.

"Masih ada 100% proteksi setelah 49 hari dari Johnson&Johnson, 100% proteksi melawan penyakit parah dan perawatan. Jadi vaksin apapun yang mengubah penyakit mematikan jadi lebih ringan membuat orang tidak masuk rumah sakit," ungkapnya.

Laporan CDC menyebutkan selama tujuh hari terakhir masyarakat AS yang divaksinasi meningkat 79%. Sementara itu per 31 Januari 2021 lalu 1,8% seluruh masyarakat setempat sudah disuntik vaksin.

Selain itu menurutnya pengetesan cepat pada masyarakat juga akan berdampak besar memerangi virus. Dia mencontohkan orang akan memiliki kesadaran apakah dirinya terinfeksi atau tidak serta perlu tetap di rumah atau sebaliknya.

Dengan kesadaran itu, dia berharap akan bisa menghentikan orang menularkan virus ke orang lainnya. "Saya pikir itu akan membuat perbedaan," kata Bhadelia.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading