Kabar Terbaru Vaksin Covid-19 Made in RI dari Bio Farma

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
14 January 2021 16:59
Infografis: Fakta Vaksin Covid19 di Indonesia Foto: Infografis/Fakta Vaksin Covid19 di Indonesia/Arie Pratama

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak 7 lembaga di Indonesia tengah terlibat dalam pengembangan vaksin merah putih, 5 berasal dari perguruan tinggi dan 2 dari lembaga penelitian. Saat ini perkembangan tercepat terlihat pada penelitian yang dilakukan lembaga Eijkman, dengan target penyerahan bibit vaksin di kuartal I-2021 kepada PT Bio Farma.

"Dari semuanya timeline tercepat mungkin dari lembaga Eijkman. Kami dan Lembaga Eijkman sudah berkomunikasi untuk bisa bersama mengembangkan protein rekombinan. Di Bio Farma sendiri protein rekombinan merupakan platform yang dikembangkan untuk vaksin sebelumnya, yakni untuk Hepatitis B," kata Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir di Komisi IX DPR RI, Kamis (14/01/2021).

Dia menyebutkan lima universitas yang ikut mengembangkan vaksin yakni Universitas Indonesia mengembangkan dengan platform DNA, RNA, dan virus like particle, kemudian Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan platform adenovirus dan inactivated.


Sementara Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan protein rekombinan, dan Universitas Airlangga air menggunakan dua platform adenovirus dan adeno-associated virus (AAV). Kemudian LIPI mengembangkan protein rekombinan fusi.

"Dari diskusi kami timeline ini tidak bisa selesai di 2021, sehingga Vaksin Merah Putih tidak masuk dalam penanganan Covid-2021, tapi rencana kalau seed vaksin bisa sampai ke kami pada kuartal I-2021 kami akan proses, karakterisasi, uji klinis dan yang lainnya kemungkinan kuartal III-2021 kami sudah bisa memproduksi sebagai bagian dari kemandirian kesehatan Indonesia," kata dia.

Honesti mengatakan hingga saat ini masih belum diketahui jangka waktu keampuhan vaksin ini, untuk itu dibutuhkan ketahanan dalam negeri dan tidak bergantung barang impor.

"Pengalaman kita ketergantungan pada barang impor membuat kita susah uuntuk mendapatkan suplai," katanya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan penjelasan perkembangan terkini vaksin merah putih, yang saat ini masi dalam tahap satu dan hasilnya berupa bibit vaksin. Nantinya bibit vaksin ini akan diserahkan pada industri yakni Biofarma untuk karakterisasi yang diperkirakan membutuhkan waktu 3-6 bulan.

Jika dengan waktu paling cepat 3 bulan, maka akan dilanjutkan ke fase uji klinis tahap 1 hingga 3 yang memakan waktu 1-2 tahun.

"Kalau misalnya paling cepat masing-masing 3 bulan selesai, maka bisa di awal kuartal 2-2022 baru bisa diproduksi. Dalam rencana kami ini akan jadi vaksin berikutnya, karena diperkirakan vaksin yang sekarang akan mulai habis kekebalannya 2022," kata Budi di Komisi IX DPR RI, Rabu (13/01/2020).

Dia mengakui perlu ada komitmen penguatan anggaran dalam pengembangan vaksin, yang akan diberikan pada beberapa konsorsium. Meski demikian rencananya masih belum ada, dan masih dalam persiapan anggaran khususnya agar peneliti mendapatkan dukungan yang bekerja sama dengan perguruan tinggi.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading