Internasional

Warning WHO: Vaksin Saja Tak Bisa Buat Covid-19 Jadi 0

Tech - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
19 November 2020 09:19
The logo of the World Health Organization is seen at the WHO headquarters in Geneva, Switzerland, Thursday, June 11, 2009. The World Health Organization held an emergency swine flu meeting Thursday and was likely to declare the first flu pandemic in 41 years as infections climbed in the United States, Europe, Australia, South America and elsewhere. (AP Photo/Anja Niedringhaus) Foto: Logo World Health Organization (WHO) (AP Photo/Anja Niedringhaus)

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan jika vaksin tidak akan membantu negara, baik yang ada di wilayah Eropa dan Amerika Serikat, dari hantaman gelombang virus corona (Covid-19) selama musim dingin ini.

"Kami belum sampai di sana dengan vaksin. Kami akan sampai di sana, tetapi kami tidak di sana," kata Mike Ryan, direktur eksekutif program kedaruratan kesehatan WHO dalam tanya jawab, dikutip dari CNBC International.




"Banyak negara sedang melalui gelombang ini, dan mereka akan melalui gelombang ini dan terus melalui gelombang ini tanpa vaksin."

Peringatan WHO muncul ketika Pfizer mengumumkan pada Rabu (18/11/2020) bahwa analisis data akhir dari vaksinnya menunjukkan 95% efektif dalam mencegah Covid-19.


Sementara pada Senin (16/11/2020) sebelumnya, Moderna melaporkan data uji coba tahap tiga awal yang juga menunjukkan vaksinnya lebih dari 94% efektif dalam mencegah Covid-19.

Namun para pejabat dan pakar kesehatan memperingatkan oengembangan vaksin kemungkinan akan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan mungkin lebih dari setahun, termasuk untuk mendistribusikan dosis yang cukup bagi AS dan seluruh dunia.

"Beberapa orang berpikir bahwa vaksin akan menjadi solusinya. Unicorn yang kita semua kejar. Tidak," kata Ryan.

"Bagaimana caranya agar Covid sama dengan 0? Menambahkan vaksin akan memberi kami peluang besar, tetapi jika kami menambahkan vaksin dan melupakan hal-hal lain, Covid tidak akan menjadi nol."

Di sisi lain, kepala unit penyakit dan zoonosis WHO, Maria van Kerkhove mengatakan adanya vaksin hanya untuk menambahkan bagian lain ke alat tindakan kesehatan yang diperlukan untuk menggagalkan penyebaran virus.

Alat lain termasuk obat-obatan untuk merawat pasien yang sakit parah dan menerapkan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak, memakai masker, menghindari keramaian dan selalu kebersihan tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer.

"Saat ini kami memiliki kekuatan kami alat untuk mengubah arah pandemi ini, dan kami melihat negara-negara melakukannya," katanya. "Kami juga melihat negara-negara yang berada dalam situasi menakutkan mulai berbelok sedikit. Kami mulai melihat penurunan insiden dengan tindakan yang telah dilakukan."

Lonjakan kasus di wilayah Eropa, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, membuat pemerintah negara menerapkan aturan dan tindakan tepat untuk menekan angka terjangkit. Salah satunya dengan menutup bisnis yang tidak penting, dan menyarankan penduduk untuk tinggal di rumah.

Upaya tersebut tampaknya berhasil sejauh ini, dengan Eropa melaporkan penurunan 10% kasus selama seminggu terakhir untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan, menurut laporan terbaru WHO.

Kematian akibat virus corona, yang biasanya tertinggal dari kasus yang dilaporkan per minggu, meningkat 18% di wilayah tersebut selama periode yang sama. Di Amerika, kasus naik 41% selama seminggu dan kematian naik 11%.

Menurut data Worldometers per Kamis (19/11/2020), sudah ada lebih dari 56,5 juta orang terjangkit corona di dunia, dengan lebih 1,3 juta meninggal, dan lebih 39,3 juta pasien berhasil sembuh sejauh ini.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading