Sepak Terjang UMKM Memulai Usaha, Jatuh atau Sukses

Tech - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
02 November 2020 19:20
Kue keranjang di pusat pembuatan kue Ny Lauw, kawasan Sewan, Tangerang, Jumat (21/1/2019). Jelang Tahun Baru China permintaan kue khas untuk sajian Imlek itu meningkat. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ada dua persoalan klasik yang kerap dihadapi bagi pengusaha mikro dan kecil yang baru saja memulai usaha. Pertama terkait manajemen keuangan kedua soal operasional.

Dua persoalan mengemuka dari para UMKM yang ditemukan oleh Jenius, digital bank dari PT Bank BTPN Tbk, melalui program ko-kreasi. Demikian yang disampaikan oleh setidaknya berdasarkan masukan yang diperoleh saat program ko-kreasi yang dilakukan oleh Jenius.

"Kalau mengenai keuangan yang kita lihat paling menentukan adalah bagaimana mereka mulai memisahkan uang pribadi dan uang usaha, dan keduanya tidak tercampur. Mereka akan mulai bisa melihat progres perkembangan bisnis, cashflow seperti apa," ujar Digital Banking Business Product Head Bank BTPN, Waasi B. Sumintardja, kepada CNBC Indonesia beberapa waktu lalu.


Adapun terkait operasional, bagaimana mereka menjalankan usaha sehari-hari di luar mencari pelanggan. Kemudian bagaimana manajemen usaha misalnya disiplin konsisten mencatat transaksi penjualan.

"Banyak pengusaha individual mikro ini mengabaikan, betapa pentingnya mencatat transaksi. Karena mereka menganggap itu repot, lebih penting mencari pelanggan daripada mencatat. Kalaupun mencatat tidak konsisten. Kalau sudah catat, malam harus rekonsiliasi. Baru mereka hitung, hari ini rugi atau untung," terangnya.

Berangkat dari sini, Jenius berdasarkan salah satu tugasnya sebagai "life finance" membantu pelaku usaha kecil ini bisa memisahkan keuangan pribadi dan usahanya, melalui akun Jenius Bisnis. Namun, jika hanya dari sisi keuangan, menurutnya belum sempurna jika belum membantu dari sisi operasionalnya.

"Akhirnya kita buat alat bantu Bisniskit tersebut. Sederhana tapi cukup mumpuni digunakan pengusaha individual. Dengan Bisniskit sudah bisa mencatat pengeluaran, dilengkapi dengan fitur nota, atau sales receipt, sehingga ketika mereka berjualan bisa pakai mesin kasir sederhana dan mencetak nota transaksi lewat whatsapp atau email," katanya menjelaskan.

Foto: Yuni AstutikFoto: Digital Banking Business Product Head Bank BTPN, Waasi B. Sumintardja (Yuni Astutik)

Sayangnya, persoalan yang dihadapi pengusaha kecil tidak sesederhana itu. Menurutnya ada masalah lain yang kerap dihadapi, terlebih di tengah pandemi seperti saat ini. Dia mencontohkan, ada pelaku usaha yang melakukan ko-kreasi. Dari pengusaha tersebut, ada yang berhasil dan ada pula yang terpaksa harus gulung tikar.

"Kita melihat pertama itu pola pikir pengusaha, penting banget. Kedua, kegigihan dan kesabaran, apalagi yang baru memulai usaha. Bikin usaha sama seperti kita meniti karir, sampai akhirnya kita duduk di puncak manajemen," terangnya.

Dalam menjalankan usaha, lanjutnya, penting memilih produk apa yang cocok dan sesuai dengan minat dan keahlian. Misal mau menjual makanan, hingga menjual barang dan jasa. Dalam berusaha, modal penting, tapi dalam kondisi saat ini itu bukan hal utama.

"Tapi juga menurut saya nggak selalu membuat pengusaha butuh modal besar. Dengan modal hanya sekian ratus ribu bisa membuat minuman sehat dan bertahap menambah kapasitas produksi," katanya.

Dia juga menyinggung bagaimana memanfaatkan momentum di tengah kondisi pandemi seperti saat ini. Dia tak memungkiri, mencari pelanggan adalah hal yang susah-susah gampang.

"Di era pandemic perlu adanya shifting, ngga bisa mengandalkan lokasi toko, untuk mendapatkan pelanggan. Kita bisa mulai dengan keluarga teman atau kontak di buku telepon. Manfaatkan sosial media hingga e-commerce untuk mencari pelanggan," jelasnya.

Pemilik Kopi Pak Deni dan Studio Tiga, Joshua GunadiFoto: Pemilik Kopi Pak Deni dan Studio Tiga, Joshua Gunadi

Salah satu pemilik Kopi Pak Deni dan Studio Tiga, Joshua Gunadi bercerita bagaimana menjalankan bisnis di tengah pandemi seperti saat ini. Menurutnya, untuk mengetahui bisnis yang akan dirintis bisa berjalan atau tidak bisa dimulai dari teman-teman terdekat. Menurutnya berapapun besar modal yang disiapkan akan percuma jika perencanaan kurang matang.

"Yang harus disiapkan paling utama adalah mental, karena harus siap ngerasain sudah usaha paling keras, tapi nggak ada orderan sama sekali," kata dia.

Dia masa seperti ini menurut Joshua juga penting untuk melirik bisnis yang modalnya sesuai dengan kantong, dan perputaran cepat, karena masih belum diketahui secara pasti kapan pandemi ini akan selesai.

Sementara pemilik bisnis Event Organizer Excitus Gisela Niken mengatakan ketika memulai bisnis dapat dimulai dari hal yang disukai, dan jangan terlalu perhitungan. Ketika sudah memiliki jaringan, tetap harus punya cara supaya tidak rugi.

"Kemudian yang penting juga ketemu target market, kadang suka lupa mau bikin ini itu, target marketnya kaya apa dan harus memberikan kualitasnya sama. testimoni dan komentar orang berharga untuk usaha jasa kaya gini," kata Niken.

Dia mengatakan karena kualitas yang dia jaga, banyak pernikahan yang didapatkan dari pernikahan yang ditanganinya. Kemudian menurutnya juga penting untuk melakukan perhitungan berapa sebenarnya biaya dikeluarkan per proyek.

"Modalnya memang nol, tidak besar kalaupun ada itu yang membuat kadang takut dan harus usahanya keras," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading