Waspada! Ini Risiko Vaksinasi Covid-19 Terlalu Cepat

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
17 October 2020 15:41
A worker inspects vials of SARS CoV-2 Vaccine for COVID-19 produced by SinoVac at its factory in Beijing on Thursday, Sept. 24, 2020. A Chinese health official said Friday, Sept. 25, 2020, that the country's annual production capacity for coronavirus vaccines will top 1 billion doses next year, following an aggressive government support program for construction of new factories. (AP Photo/Ng Han Guan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Untuk mengembalikan kehidupan normal seperti sediakala, pemerintah RI terus berupaya untuk menjajaki kerja sama dan melobi para pengembang vaksin global untuk mendapatkan barang langka yang sekarang dianggap sebagai juru selamat tersebut.

Upaya pemerintah pun membuahkan hasil. Tiga pengembang vaksin China yang terbilang leading dalam pembuatan vaksin Covid-19 telah berkomitmen untuk memasok kurang lebih 18,1 juta dosis vaksin tahun ini dan kurang lebih 195 juta dosis tahun depan. 

Ketiga pengembang tersebut adalah Sinovac, Sinopharm dan CanSino Biological Inc. Mereka akan mengirimkan sebagian vaksinnya mulai November ini dan bertepatan juga dengan upaya pemerintah untuk melaksanakan program vaksinasi masal. 


Namun masalahnya, ketiga vaksin tersebut belum mendapatkan lisensi dari otoritas kesehatan terkait. Saat ini ketiganya masih menyandang status sebagai 'kandidat' dan berada di fase terakhir uji klinis. 

Beberapa vaksin China tersebut memang sudah digunakan dalam kondisi darurat di beberapa negara. Namun bukan berarti penggunaan darurat tersebut bukan tanpa risiko. 

Kita harus berkaca pada sejarah. Setengah abad silam, wabah polio menyebar di AS. Dalam waktu singkat virus tersebut telah mengubah kehidupan warga AS pada tahun 1950-an menjadi mengerikan. 

Para ilmuwan berlomba-lomba untuk mengembangkan vaksin. Beberapa jam setelah hasil uji klinis keluar, jutaan orang di AS divaksinasi secara langsung. Namun tak disangka, vaksinasi yang seharusnya menyelamatkan hidup mereka justru menjadi mimpi buruk.

Sebanyak 120 ribu warga AS malah menjadi terinfeksi oleh virus. Lebih dari 40 ribu anak-anak terjangkit polio ringan. Belasan anak menjadi lumpuh dan 10 orang meninggal karenanya. 

Vaksin polio yang dikembangkan saat itu merupakan jenis yang termasuk ke dalam inactivated. Artinya virus tersebut dimatikan. Setelah ditelusuri, ternyata vaksin yang dikembangkan oleh laboratorium Cutter, mengandung virus yang masih aktif atau hidup.

Segera setelah itu, vaksin yang diproduksi dari lab tersebut ditarik dari peredaran dan kejadian itu dikenal dengan insiden Cutter. Vaksin polio lain yang juga dikembangkan pada akhirnya berhasil mengeradikasi polio. 

Namun kejadian vaksin yang terlalu buru-buru disuntikkan itu tetap saja memiliki risiko yang tidak kecil. Kejadian serupa juga berulang. Di tahun 1960 ribuan anak-anak yang divaksinasi campak tiba-tiba terjangkit oleh campak. 

Gejala yang diderita meliputi demam tinggi, sakit perut hingga inflamasi paru-paru. Banyak dari mereka harus dirawat di rumah sakit. Segera setelah itu vaksin ditarik dari peredaran. 

Kejadian tersebut memang sudah puluhan tahun silam. Namun memberikan pelajaran bagi kondisi sekarang. Tak bisa dipungkiri perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memang bisa menghantarkan vaksin Covid-19 menjadi lebih cepat. 

Menggunakan skenario yang optimis, vaksin bisa selesai dalam kurun waktu 12-24 bulan. Hanya saja setiap pihak terutama para pengembang vaksin dan pemerintah harus sangat berhati-hati. 


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading