Harga Test Swab Corona Dibatasi, Maksimal Rp 900 Ribu!

Tech - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
02 October 2020 18:11
Tenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri (APD) mengambil sampel darah dengan metode swab test di GSI Lab (Genomik Solidaritas Indonesia Laboratorium), Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (30/9/2020). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Untuk memutus rantai penularan Covid-19, Genomik Solidaritas Indonesia (GSI Lab) membuka laboratorium tes PCR berstandar Biosafety Level (BSL) 2+. 

Laboraturium GSI Lab dirancang untuk memberikan pelayanan tes PCR yang tidak hanya bersekala masif, namun jugamemberikan hasil tes yabg cepat sehinggal hasil tes dapat diakses pada hari yang sama atau setidaknya H+1 (setelah tes).  

Untuk pasien drive thru sehari bisa 500 orang sedangkan SCR 5000 sempel perharinya.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia- Kementerian Kesehatan akhirnya menetapkan batasan tarif tertinggi untuk tes swab PCR sebesar Rp 900.000 per spesimen.

Tim Kemenkes dan BPKP sepakat batas tarif tersebut sebagai acuan penghitungan batas tertinggi, dihitung komponen yang terdiri atas jasa SDM, jasa pelayanan dokter, ekstraksi, dan pengambilan sampel.

"Kami tetapkan batas tertinggi biaya pengambilan swab dan pemeriksaan mandiri yang bisa kami pertanggungjawabkan untuk ditetapkan kepada masyarakat yakni sebesar Rp 900.000," ujar Plt. Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Abdul Kadir, dikutip dari detik.com, Jumat (02/10/2020).


Dia menegaskan bahwa harga  acuan ini ditujukan untuk  masyarakat yang ingin melakukan tes mandiri, bukan kontak tracing. Ada tes swab ditanggung pemerintah yakni jika telah mendapat rujukan dari rumah sakit atau ditemukan dari penelusuran kontak atau contact tracing.

Sementara, ada sebagian masyarakat yang juga melakukan pemeriksaan tes swab mandiri karena alasan tertentu. Sebelum ditetapkan batas tarif tes swab mandiri, harganya cukup mahal Rp 1,5 juta-Rp 4 juta, tergantung waktu tunggu hasil tes yang didapatkan.

Pengaturan harga tes swab yakni presiden telah menginstruksikan agar testing ditingkatkan dan animo masyarakat untuk melakukan tes mandiri sebenarnya cukup tinggi. Namun harganya cukup bervariatif dan sebagian besar kalangan mendorong pemerintah untuk menetapkan harga acuan.

Satgas Waspada dan Siaga NcoV PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Erlina Burhan mengatakan sebagai upaya deteksi, seharusnya PCR malahan diberikan secara gratis sehingga bisa menjangkau masyarakat luas. Jika memang tidak dapat digratiskan maka dia pun sepakat dengan pemerintah, harus ada regulasi agar tidak ada variasi harga yang jauh.

"Jangan ada yang Rp 800 ribu dan ada yang Rp 3 juta.  Ini terlalu  jauh range-nya," kata Erlina kepada CNBC Indonesia, Jumat (02/10/2020)

Erlina menegaskan pemerintah harus membuat standar dan  kalau bisa semurah mungkin agar terjangkau, dengan begitu semakin banyak masyarakat yang dapat dites.

[Gambas:Video CNBC]




(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading