Ngeles dari Sanksi Trump, TikTok 'Dijual' ke Investor AS?

Tech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
22 July 2020 18:00
tik tok

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa investor Amerika Serikat (AS) yang berinvestasi di Bytedance China sedang mempertimbangkan untuk menjadi pemegang saham mayoritas di TikTok sebagai langkah menghindari sanksi blokir yang sedang dikaji pemerintahan Presiden Donald Trump.

Kemungkinan kelompok investor yang akan terlibat dalam aksi ini termasuk General Atlantic dan Sequoia Capital. Hal ini dilaporkan oleh The Information dan dilansir dari South China Morning Post, Rabu (22/7/2020).


The Information melaporkan Bytedance juga dapat menjual TikTok ke perusahaan AS, tetapi penjualan ini mungkin bermasalah bila jatuh ke tangan perusahaan teknologi pesaing karena meningkatkan kekhawatiran akan adanya monopoli.


Dalam laporan sebelumnya, pendiri dan CEO Bytedance Zhang Yiming tidak keberatan dengan opsi penjualan tersebut demi menyelamatkan bisnis TikTok. Namun berita ini belum terkonfirmasi karena belum ada tanggapan dari Bytedance.

Asal tahu saja, Bytedance merupakan induk dari TikTok. Aplikasi video pendek ini beroperasi di luar China. Sementara untuk China daratan Bytedance memakai aplikasi bernama Douyin.

Pemerintah AS memang sedang mengkaji untuk menjatuhkan sanksi blokir ke TikTok. Aplikasi ini dituding memiliki masalah keamanan data dan bisa digunakan sebagai alat mata-mata Tiongkok karena adanya Undang-Undang keamanan internet China yang memungkinkan pemerintah untuk meminta akses ke data mereka.

Sebelumnya, TikTok mengumumkan rencana untuk merekrut 10.000 staf di AS selama tiga tahun ke depan. Rencana yang diumumkan pada Selasa (21/7/2020) oleh aplikasi asal China itu tetap disampaikan meskipun mereka mungkin akan dicekal di AS.

Sejauh ini perusahaan telah memiliki sekitar 1.400 karyawan di AS, naik dari di bawah 500 pada awal tahun. Kenaikan pesat jumlah karyawan terjadi seiring meningkatnya popularitas TikTok di negara itu.

"Pada tahun 2020, TikTok menambah tiga kali lipat jumlah karyawan yang bekerja di AS, dan kami berencana untuk menambah 10.000 pekerja di sini selama tiga tahun ke depan," kata juru bicara TikTok kepada CNBC International.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading