Tak Ada dalam Peta, Kata Palestina & Konflik Menahun Israel

Tech - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
20 July 2020 08:25
FILE - This June 29, 2020, file photo shows the Israeli settlement of Maale Adumim, in the West Bank. Peter Beinart, an influential American commentator, has shocked the Jewish establishment and Washington policy-making circles by breaking a long-standing taboo: He has endorsed the idea of a democratic entity of Jews and Palestinians living with equal rights between the Jordan River and the Mediterranean.  (AP Photo/Sebastian Scheiner, File)

Kejadian ini sebenarnya bukan yang pertama. Sebelumnya pada tahun 2016, sebuah petisi juga muncul di laman change.org yang meminta google meletakkan Palestina dalam peta-nya.

Mereka memunculkan petisi yang berisi "penghapusan peta karena diminta Israel". Petisi itu menulis bahwa "dua pendiri Google memiliki hubungan dekat dengan Israel dan para pemimpinnya".

Petisi dengan judul "Google: Letakkan Palestina di Peta Anda!"  tetap aktif hingga saat ini. Bahkan mengumpulkan menerima lebih dari 800.000 tanda tangan.

Sementara itu, aneksasi (penggabungan) Israel terus terjadi di wilayah Palestina, khususnya Tepi Barat. Hal ini mendorong lebih dari 1.000 anggota parlemen dari seluruh Eropa untuk menandatangani surat protes bersama.

"Kegagalan untuk merespons secara memadai akan mendorong negara-negara lain dengan klaim teritorial untuk mengabaikan prinsip-prinsip dasar hukum internasional," bunyi surat tersebut.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan rencana penggabungan akan membuat wilayah itu tidak stabil. Namun AS mendukung langkah Israel.


Sejarah Konflik
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading