China Sudah Lama Tahu Soal Infeksi Virus Corona Covid-19?

Tech - Redaksi, CNBC Indonesia
13 July 2020 13:25
Health workers check details of a passenger arriving from Beijing at the train station in Wuhan in central China's Hubei province on Sunday, March 29, 2020. Wuhan, the city at the center of China's virus outbreak, has reopened subways and long-distance train service in another step toward ending restrictions that confined millions of people to their homes. Chinese characters read

Jakarta, CNBC Indonesia - Pernyataan Dr Li Meng Yan, seorang ilmuwan China bikin kaget Amerika Serikat (AS). Menurutnya, China sudah lama tahu akan adanya virus corona Covid-19 sebelum diumumkan resmi pemerintah.

Pernyataan ini disampaikan Li Meng Yan dalam sebuah wawancara dengan Fox News. Li sendiri merupakan ilmuwan China asal Hong Kong, yang kini disebut Fox News 'melarikan diri' ke Amerika Serikat.

Dalam wawancara tersebut, Ia menyebut China menutup-nutupi keberadaan Covid-19. China bahkan mengabaikan penelitian yang dilakukannya di awal pandemi, yang ia percayai bisa menyelamatkan nyawa.


Padahal, ujarnya, mereka memiliki kewajiban untuk memberi tahu dunia. Mengingat statusnya sebagai laboratorium rujukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) khusus untuk virus influenza dan pandemi.

"Pemerintah China menolak membiarkan para ahli di luar negeri, termasuk yang di Hong Kong, melakukan penelitian di China," katanya dalam wawancara dengan Fox News dikutip Senin (13/7/2020). "Jadi aku menghubungi teman-temanku (peneliti China lain) untuk menggali informasi."

Dari temannya, seorang ilmuan di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China, Li menyebut menemukan bukti bahwa corona jenis baru yang akhirnya diberi nama penyakit Covid-19, menular dari manusia ke manusia pada 31 Desember 2019.

Ini jauh sebelum China dan WHO mengakui transmisi semacam ini terjadi. Ia pun sempat memberitahukan hal tersebut pada supervisor penelitiannya. Namun sayangnya, kata dia, tak ada jawaban memuaskan. "Dia hanya mengangguk," katanya seraya mengatakan bos-nya hanya memintanya terus bekerja.

Pada 9 Januari 2020, WHO mengeluarkan pernyataan yang menyebut, "virus ini dapat menyebabkan penyakit parah pada beberapa pasien dan tidak menular dengan mudah di antara orang-orang" dan "ada informasi terbatas untuk menentukan risiko keseluruhan kluster yang dilaporkan ini".

Li pun menceritakan lagi, dia dan rekan-rekannya di seluruh China membahas virus ini. Tapi, ujarnya, muncul sejumlah orang yang memperingatkan mereka untuk tidak menanyakan detil.

Beberapa dokter kata Li sudah membicarakan perlunya memakai masker. Kemudian setelahnya, jumlah penularan dari manusia ke manusia tumbuh secara eksponensial.

"Ada banyak, banyak pasien yang tidak mendapatkan perawatan tepat waktu dan diagnosis tepat waktu," kata Li. "Dokter rumah sakit takut, tetapi mereka tidak bisa bicara. Staf CDC takut."

Ia pun juga menuding, seorang atasannya di laboratorium yang terafiliasi dengan WHO, tahu. Namun tak melakukan apapun.

Ia menyebut nama Profesor Malik Peiris, yang merupakan penasihat pada Komite Darurat Peraturan Kesehatan Internasional WHO untuk Pneumonia karena nCoV. Ia mengaku saat itu sangat frustasi tapi tak terkejut.

"Saya sudah tahu itu akan terjadi karena saya tahu korupsi di antara organisasi internasional seperti WHO kepada pemerintah China dan Partai Komunis China," klaimnya.

"Jadi pada dasarnya ... aku menerimanya tetapi aku tidak ingin informasi yang menyesatkan ini menyebar ke dunia."

Li sendiri saat ini berada di AS. Ia pergi ke Paman Sam karena menghindari tekanan yang mungkin akan ia dapatkan karena pernyatannya ini. Ia meninggalkan Hong Kong pada 27 April. Saat itu menurut Fox, ia sempat diperiksa FBI.

"Aku tahu bagaimana mereka memperlakukan pelapor," ujarnya lagi.

Sementara itu, WHO membantah keras menutup-nutupi virus. WHO juga membantah Yan atau Peiris bekerja secara langsung untuk organisasi PBB tersebut.

"Profesor Malik Peiris adalah pakar penyakit menular yang telah berada di misi WHO dan kelompok ahli - seperti banyak orang terkemuka di bidangnya," kata Juru Bicara WHO Margaret Ann Harris dalam email kepada Fox.

"Itu tidak membuatnya menjadi anggota staf WHO, juga tidak mewakili WHO."

Kedutaan Besar China di AS mengatakan pada Fox bahwa mereka tidak mengenal Li.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading