Corona Melayang di Udara, RI Siap 'Geber' Pengembangan Vaksin

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
13 July 2020 13:48
Bio Farma/Setkab

Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar menghebohkan yang baru-baru ini santer terdengar adalah virus corona mampu melayang di udara dan menginfeksi penghirupnya. WHO akui ada potensi mode penularan lewat jalur tersebut dan pengembangan vaksin terus digeber. 

Ratusan ilmuwan multidisipliner dari berbagai belahan dunia terus mendesak WHO merevisi pandangannya terkait potensi transmisi wabah corona melalui udara (airborne) setelah melakukan studi yang komprehensif. Namun sampai WHO mengakui potensi wabah menyebar lewat udara, belum ada vaksin yang tersedia 

Sampai dengan 7 Juli 2020, WHO mencatat ada 21 kandidat vaksin penangkal virus corona penyebab Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) sedang dievaluasi klinis. Kandidat yang paling unggul saat ini masih sama saja yakni AstraZeneca dengan AZD1222-nya, Moderna dengan mRNA-1273 dan Sinovac dengan kandidatnya. 


Dari sebanyak 21 kandidat tersebut, ternyata ada perusahaan Indonesia juga lho. Genexine Consortium merupakan gabungan dari Genexine, Binex, the International Vaccine Institute (IVI), GenNBio, the Korea Advanced Institute of Science & Technology (KAIST), and Pohang University of Science & Technology (POSTECH) dan juga PT Kalbe Farma Tbk. 

Kandidat vaksin yang diberi nama GX-19 tersebut merupakan DNA yang mengkode protein Spike virus corona. Saat ini kandidat vaksin yang dikembangkan oleh kerja sama Kalbe dan beberapa perusahaan dan universitas asal Asia tersebut saat ini masih berada di tahap 1 uji klinis. 

Mengacu pada situ clinicaltrials.gov, kandidat vaksin ini mulai diuji ke 190 sukarelawan yang sehat pada 17 Juni lalu. Uji ini diperkirakan membutuhkan waktu 6-24 bulan. Jika tak ada kendala berarti, vaksin rencananya akan diproduksi secara masal pada awal tahun 2022 mendatang.

Sebenarnya tak hanya Kalbe Farma saja yang mengembangkan vaksin anti Covid-19. Perusahaan pelat merah Bio Farma juga bekerja sama dengan perusahaan farmasi asal China Sinovac untuk mengembangkan vaksin penangkal Covid-19. 

Kandidat vaksin hasil kerja sama ini diharapkan masuk ke tahap uji klinis pada bulan Juli dan jika berjalan lancar produksi masal akan mulai digarap di awal tahun depan. Saat ini Sinovac juga mengembangkan vaksin dalam bentuk virus yang terinaktivasi dan sudah masuk uji klinis tahap tiga. 

Selain perusahaan, institusi nirlaba Tanah Air juga ada yang mengembangkan vaksin untuk melawan pandemi Covid-19. Lembaga tersebut adalah Eijkman Institute yang memimpin konsorsium yang terdiri dari universitas di Indonesia serta lembaga riset lain, bahkan Bio Farma juga ikut di dalamnya, tetapi dengan proyek berbeda. 

Konsorsium ini dikabarkan akan mengembangkan vaksin secara independen tanpa kerja sama dengan pihak luar manapun. Rencananya uji klinis baru akan dilakukan pada November 2020 - Januari 2021. Jika berjalan mulus maka produksi secara masal akan mulai digarap pada Februari tahun depan.

Keikutsertaan Indonesia dalam mengembangkan vaksin Covid-19 merupakan bentuk komitmen Indonesia untuk mampu mendukung kepentingan dan ketahanan nasional di bidang kesehatan, selain faktor permintaan pasar yang memang sedang tinggi-tingginya.

TIM RISET CNBC INDONESIA

 

[Gambas:Video CNBC]




(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading