Tambah Terus! 19 Kandidat Vaksin Diuji, AstraZeneca Juaranya

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
07 July 2020 17:20
In this photo taken Sunday, April 5, 2020, laboratory technicians handle microcentrifuge tubes containing patient samples to be tested for the new coronavirus that causes COVID-19, at the Pathologists Lancet Kenya laboratory in Nairobi, Kenya. The company, which is offering tests to patients with a doctor's referral, was previously having to send samples to South Africa for testing but is now completing the testing in-house in Kenya. (AP Photo/Brian Inganga)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peluang akan ditemukannya vaksin yang ampuh untuk menangkal virus corona kian terbuka. Setiap harinya kandidat vaksin yang diuji klinis ke manusia jumlahnya bertambah. 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ada 19 kandidat vaksin virus corona yang sedang dievaluasi secara klinis hingga Senin kemarin (6/7/2020). Ada tambahan satu kandidat vaksin yang masuk ke pipeline uji klinis.

Satu kandidat vaksin tambahan ini dikembangkan oleh perusahaan farmasi asal India yakni Cadilla Healthcare Limited. Platform yang digunakan untuk mengembangkan vaksin corona versi Cadilla adalah DNA plasmid.


Nantinya plasmid tersebut akan berisi materi genetik dari virus yang dapat diterjemahkan dan bisa memicu respon imun berupa dihasilkannya antibodi penetral. Kandidat vaksin ini memperoleh izin dari otoritas kesehatan India atau Drugs Controller General of India (DCGI) pada Kamis pekan lalu (2/7/2020).

Sebenarnya ada satu kandidat vaksin lainnya yang juga dikembangkan oleh India. Kandidat tersebut dikembangkan oleh Bharat Biotechnology dengan menggandeng Indican Council of Medical Research and National Institute of Virology (NIV), yang diberi nama Covaxin.

Namun kandidat ini belum dimuat dalam press rilis WHO. Ada kontroversi yang mencuat soal Covaxin. Para peneliti dan pengembang vaksin tersebut dikabarkan memandang vaksin tersebut dapat diluncurkan ke publik saat hari kemerdekaan India pada 15 Agustus nanti. 

Jelas banyak pihak yang meragukan pernyataan tersebut. Pasalnya dalam kondisi normal pengembangan vaksin membutuhkan waktu rata-rata 5-8 tahun. Bahkan dengan skenario pandemi 12-18 bulan pun masih dirasa terlalu cepat dan juga diragukan, apalagi dalam hitungan bulan.

Mengutip BBC, awal mula kontroversi terjadi ketika sebuah pernyataan ketua ICMR Balram Bhargava yang dikirimkan ke 12 institusi untuk melakukan uji klinis terhadap kandidat yang diberi nama Covaxin itu. 

Dalam surat yang kemudian tersebar di media sosial itu Balram mengarahkan kepada institusi tersebut untuk mempercepat uji klinis pada manusia sehingga vaksin dapat diluncurkan pada 15 Agustus. 

Lebih lanjut, surat tersebut juga menekankan soal ketidakpatuhan akan arahan tersebut dapat dikenakan semacam sanksi yang sangat serius.

Informasi lain yang juga semakin menambah kebingungan adalah pernyataan yang dirilis oleh Kementerian Sains & Teknologi India.

BBC mengabarkan Kementerian telah menghapus satu baris pernyataan sebelumnya yang mengatakan bahwa tidak mungkin satu pun dari vaksin yang sedang dikembangkan di negara tersebut termasuk Covaxin kemungkinan siap untuk digunakan publik sebelum 2021.

Terlepas dari kontroversi yang ada, jika kandidat ini ikut dihitung maka saat ini ada 20 kandidat vaksin yang berada di tahap uji klinis. 

Berdasarkan data yang dirilis WHO tersebut tampak saat ini ada dua kandidat vaksin yang sudah berada di tahap akhir uji klinis yaitu AZD1222 yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan kandidat lain yang dikembangkan oleh Sinovac. 

Sebelumnya kandidat vaksin yang dijagokan adalah AstraZeneca dan Moderna. Namun awal bulan ini tersiar kabar bahwa Moderna sedang merencanakan ulang perihal uji klinis tahap akhirnya. Meski ada keraguan, pihak Moderna mengatakan akan tetap berkomitmen terhadap timeline uji klinis tahap akhir tetap dilakukan bulan Juli. 

Mengutip situs ISRCTN, saat ini uji coba klinis tahap tiga kandidat vaksin AstraZeneca sedang berlangsung. Uji tahap tiga dimulai pada 1 Mei lalu dan dijadwalkan berakhir pada 31 Juli atau akhir bulan ini. AstraZeneca saat ini gencar merekrut sukarelawan untuk ikut berpartisipasi dalam uji klinis. 

Melihat perkembangannya yang sangat pesat, AstraZeneca sudah kebanjiran permintaan vaksin dari berbagai negara mulai dari Amerika Serikat (AS), Inggris, hingga negara-negara Uni Eropa (UE) lainnya seperti Jerman, Italia, Perancis dan Spanyol. 

Rencananya AstraZeneca akan memproduksi vaksin ini dengan jumlah 1 miliar dosis pada akhir tahun ini dan tambahan 1 miliar dosis tahun depan. Sehingga secara total, kapasitas produksi AstraZeneca mencapai 2 miliar dosis.

Beralih ke kandidat vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi asal China yakni Sinovac, uji klinis tahap tiga dijadwalkan dimulai awal bulan ini dan akan berakhir pada Oktober 2020 nanti. Estimasi populasi sampel yang diuji mencapai 8.870 sukarelawan dengan usia 18-55 tahun.

Kandidat vaksin lainnya kebanyakan masih berada di tahap preklinis. WHO mencatat ada 130 kandidat vaksin virus corona lain yang berada di tahap ini. 

Dengan asumsi tak ada halangan yang berarti dan mengikuti skenario optimis pengembangan vaksin, maka setidaknya akan ada setidaknya 1 miliar dosis vaksin di awal tahun depan dan 2-3 miliar dosis vaksin di akhir tahun depan. 

Namun yang perlu diingat adalah vaksin yang sudah diproduksi tersebut jika memang berhasil juga sudah 'dipesan' jauh-jauh hari oleh beberapa negara kaya yang terlibat dalam pendanaan maupun investasi pengembangan vaksin. Sehingga mewujudkan vaksinasi global merupakan tantangan yang besar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading