Ini Lho Beda Vaksin Corona A La Moderna & AstraZeneca

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
29 June 2020 13:52
Infografis: Apakah Vaksin Corona Sudah Ditemukan? Ini Updatenya! Foto: Infografis/Apakah Vaksin Corona Sudah Ditemukan? Ini Updatenya!/Arie Pratama

Jakarta, CNBC Indonesia - Kandidat vaksin virus corona (Covid-19) yang terkuat kini dipegang oleh dua perusahaan yaitu AstraZeneca yang bermarkas di Cambridge, Inggris dan Moderna yang berkantor pusat di Massachusetts, AS. Kedua kandidat vaksin tersebut memiliki persamaan maupun perbedaan. 

AstraZeneca memiliki kandidat vaksin Covid-19 yang diberi nama AZD1222 yang sebelumnya bernama ChAdOx1-S. Sementara Moderna memiliki calon kuat vaksin lainnya yang diberi nama mRNA-1273. 

Kedua kandidat vaksin tersebut kini tengah di evaluasi melalui uji klinis tahap lanjut. Untuk kandidat vaksin milik AstraZeneca sudah masuk tahap ketiga uji klinis sementara Moderna dengan mRNA-1273 dikabarkan akan menyusul tengah Juli nanti. 


"Kami tahu bahwa vaksin Moderna juga akan masuk ke uji klinis fase tiga, mungkin mulai pertengahan Juli, dan agar calon vaksin tidak jauh di belakang," kata Soumya Swaminathan, Kepala ilmuwan Badan Kesehatan Dunia (WHO), seperti dilansir dari Reuters, Senin (29/6/2020).

Kedua kandidat vaksin tersebut memiliki kesamaan maupun perbedaan. Kesamaannya terletak pada penggunaan gen yang mengkode protein spike dari virus corona jenis baru ini (SARS-CoV-2).

Protein spike merupakan suatu protein di permukaan virus yang bentuknya seperti tonjolan sehingga membuat penampakan virus corona seperti mahkota. Menurut Rane, dkk (2020) protein ini memiliki peranan untuk membawa masuk virus ke dalam sel inang. 

Mengetahui peranannya dalam mekanisme infeksi virus, protein ini oleh para ilmuwan digunakan sebagai antigen untuk memancing respons imun inang guna menghasilkan antibodi penetralnya. 

Itulah kesamaan kandidat vaksin yang dibuat oleh AstraZeneca dan Moderna. Sementara itu, perbedaannya terletak pada 'kendaraan' yang digunakan untuk membawa gen yang mengkode protein spike tersebut. 

AstraZeneca lebih memilih untuk menggunakan jenis virus terntentu (Adenovirus) yang dilemahkan untuk membawa gen tersebut. Berbeda dengan AstraZeneca, Moderna menggunakan suatu jenis lemak khusus berukuran nano untuk 'membungkus' gen pengkode protein spike tersebut. 

Harapannya, ketika vaksin ini diberikan kepada pasien antibodi penawar akan segera diproduksi oleh tubuh untuk melawan serangan atau invasi virus corona jenis baru ini. 

Untuk saat ini AstraZeneca masih lebih dijagokan sebagai kandidat vaksin mengingat sudah memasuki uji klisi tahap III yang biasanya merupakan tahap akhir sebelum disetujui otoritas kesehatan, diproduksi secara masal dan didistribusikan.

"Tapi saya pikir AstraZeneca tentu memiliki cakupan yang lebih global saat ini dalam hal di mana mereka melakukan dan merencanakan uji coba vaksin mereka," tandas Swaminathan.

Lebih lanjut WHO mencatat, hingga Minggu (28/6/2020) sudah ada 148 kandidat vaksin Covid-19 yang tengah dievaluasi. Jumlahnya bertambah sebanyak 7 buah dari sebelumnya hanya 141 kandidat pada 24 Juni lalu.

Dari 148 kandidat vaksin, sebanyak 17 vaksin sudah masuk tahap uji klinis, sementara sisanya yang berjumlah 133 kandidat masih dalam tahap preklinis. Dengan begitu ada tambahan satu kandidat vaksin dari tahap pre-klinis yang melanjutkan ke tahap klinis dan ada enam kandidat baru yang berada di tahap preklinis. 

Ketujuh belas kandidat vaksin yang diuji secara klinis ini dikembangkan oleh berbagai negara yang melibatkan perusahaan farmasi dan institusi pendidikan serta penelitian. Dari 17 kandidat yang diuji klinis, sembilan di antaranya masih berada di tahap pertama. 

Jika tidak ada kendala yang berarti dan mengacu pada timeline pengembangan vaksin selama 12-18 bulan maka vaksin akan tersedia paling lambat akhir tahun depan. 

TIM RISET CNBC INDONESIA

Saksikan video terkait di bawah ini:

Simak! Ini 2 Kandidat Vaksin Covid-19 Terdepan Versi WHO


(twg/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading