Catat! Ini Vaksin China yang Sukses Bikin Antibodi Covid-19

Tech - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
26 May 2020 09:21
FILE - In this Wednesday, March 11, 2020 file photo, a technician prepares COVID-19 coronavirus patient samples for testing at a laboratory in New York's Long Island. Wide scale testing is a critical part of tracking and containing infectious diseases. But the U.S. effort has been plagued by a series of missteps, including accuracy problems with the test kits the CDC sent to other labs and bureaucratic hurdles that slowed the entrance of large, private sector labs. (AP Photo/John Minchillo)
Jakarta, CNBC Indonesia - China jadi negara terdepan dalam upaya menghasilkan vaksin Covid-19. Beijing Institute of Biotechnology mengungkapkan dalam uji klinis tahap awal vaksin buatannya telah berhasil memicu antibodi penawar pada puluhan pasien.

Hasil penelitian ini pun dipublikasikan di jurnal kesehatan The Lancet pada Jumat pekan lalu. Vaksin tersebut bernama Ad5-nCoV. Vaksin ini diujikan ke 108 orang dengan usia 18-60 tahun dengan dosis rendah, sedang, dan tinggi. masing-masing kelompok terdiri dari 36 orang.


Kandidat uji coba vaksin diinduksi dengan antibodi yang mengikat pada sebagian besar pasien corona yang telah terjangkit 28 hari. Dalam uji coba vaksin ini, pada hari ke-28, pasien yang mendapat dosis vaksin rendah dan menengah menunjukkan adanya antibodi penawar dibandingkan dengan pasien dalam kelompok dosis tinggi.


"Hasil ini merupakan tonggak penting," ujar Wei Chen, profesor di Institut Bioteknologi Beijing dan pemimpin penelitian kepada para media, seperti dikutip dari CNBC International, Minggu (24/5/2020).

"Namun harus ditafsirkan dengan hati-hati. Tantangan dalam pengembangan vaksin Covid-19 belum pernah terjadi sebelumnya, dan kemampuan untuk memicu respons kekebalan ini tidak selalu menunjukkan bahwa vaksin tersebut akan melindungi manusia dari Covid-19."

Menurut World Health Organization (WHO) ada 9 vaksin yang diujikan ke manusia. Vaksin Ad5-nCoV merupakan yang paling maju karena sudah masuk uji klinis fase 2 dari tiga tahun. Fase 2 sudah dilaksanakan pada April 2020.

Sayangnya hasil penelitian fase 1 tidak dipublikasikan di jurnal kesehatan. Ketika memasuki fase 2, CanSino hanya menyatakan pihaknya bergerak ke uji klinis fase 2 berdasarkan "data keselamatan awal" dari fase 1, yang melibatkan 500 orang.

Lalu, siapa saja investor yang mendanai pengembangan vaksin ini?

1. National Key R&D Program of China

Ini adalah lembaga pemerintah China yang mendanai penelitian dalam bidang kesejahteraan sosial dan peningkatan mata pencarian penduduk seperti pembiayaan penelitian bidang pertanian, energi dan sumber daya, lingkungan, dan kesehatan.

Mereka biasanya fokus pada pengembangan teknologi kunci dan strategis. Berdiri sejak 2014, lembaga ini sudah menyalurkan dana peneltian lebih dari 50,7 miliar yen.

2. National Science and Technology Major Project

Lembaga ini juga milik pemerintah China di bawah kementerian Science and Technologies, mereka mendanai proyek-proyek pengembangan teknologi. Tak banyak informasi mengenai lembaga ini di internet.

3. CanSino Biologics

Ini merupakan perusahaan vaksin asal China yang mencatatkan sahamnya di Bursa Saham Hong Kong pada 2018. Sebelumnya perusahaan ini mengembangkan vaksin e-bola.

Ketika listing di bursa saham Hong Kong tiga pemegang utama perusahaan adalah Eli Lilly and Company (perusahaan farmasi asal AS), SDIC Fund Management (perusahaan investasi milik pemerintah China) dan Qiming Venture Partners (perusahaan investasi).

[Gambas:Video CNBC]




(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading