Peneliti AS Bongkar Mitos Gumpalan Darah Akibat Vaksin Covid

Redaksi,  CNBC Indonesia
26 April 2023 15:00
Peneliti AS Bongkar Mitos Gumpalan Darah Akibat Vaksin Covid
Foto: Vaksin Covid-19 Spikevax (Moderna). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ahli Amerika Serikat mengungkapkan fakta terbaru soal vaksin Covid-19. Penelitian terbaru menegaskan bahwa mitos vaksin Covid-19 berisiko tinggi membuat darah menggumpal tidak benar.

Peneliti dari Department of Biomedical InformaticsĀ di University of Buffalo menjalankan survei yang melibatkan puluhan ribu veteran militer AS. Hasilnya, mitos soal risikoĀ venous thromboembolismĀ (VTE) yang selama ini beredar ditemukan tidak signifikan.

"Studi berbasis populasi hanya menemukan risiko sepele terkait VTEĀ setelah vaksinasi Covid-19," kata Peter L. Elkin. Karena risiko VTEĀ dari infeksi Covid-19 sangat tinggi, perbandingan risiko-keuntungan sangat berat ke vaksinasi."

Risiko sepele tidak berarti potensi VTEĀ setelah menerima vaksin Covid-19 adalah nol. Namun, potensi darah menggumpal jauh lebih tinggi bagi orang tidak divaksinĀ dan tertular Covid.

Mitos soalĀ VTE setelah menerima vaksin CovidĀ disuarakan oleh pihak anti-vaksin sejak munculnya berita potensi keterkaitan antara vaksin dan darah menggumpal pada 2021.

Dalam risetnya, ElkinĀ dan tim meneliti data dari 855.686 veteran tentara AS berusia minimum 45 tahun yang telah menerima vaksin Covid-19 paling tidak 60 hari sebelumnya. Sebagai pembanding (variabel kendali), mereka meneliti data 321.676 veteran yang belum divaksinasi.

Rasio VTEĀ (penggumpalan darah) di kelompok yang divaksin adalah 1,3755 per 1.000 orang, hanya 0,1 persen lebih tinggi dari rasio 1,3741 per 1.000 orang pada kelompok yang tidak divaksin.

"Risikonya sekitar 1,5 kasus dari 1 juta pasien yang divaksin," kata Elkin.

Risiko yang sedikit lebih tinggi pada penerima vaksin, kemungkinan adalah hasil dari thromboticĀ thrmobocytopeniaĀ yang dipicu vaksin (VITT), yaitu respons imun yang mengubah kuantitas dan kualitas keping darah.

Menurut laporan tersebut, VITTĀ sebetulnya sudah dikenali sebagai komplikasi vaksin SARS-CoV-2 berbasis vektor adenoviralĀ seperti JanssenĀ dan AstraZaneca.

Laporan penelitian ElkinĀ dan tim menyatakan risiko sepele soal VITTĀ juga diteumukan di vaksin berbasis mRNAĀ seperti ModernaĀ dan Pfizer.

Saat ini, sekitar 9,23 miliar dosis vaksin Covid-19 telah diterima oleh penduduk dunia.

VTEĀ (darah menggumpal) tegas para peneliti jauh lebih berisiko pada penderita Covid-19, yaitu ditemukan di 8 persen pasien yang dirawat di rumah sakit dan 23 persen pasien yang dirawat di ICU.

Berdasarkan data 2021,Ā VTEĀ ditemukan pada 3.203 pasien Covid-19 dari total 257.125 kasus. Jika pada waktu itu program vaksinasi sudah terlaksana, risiko VTEĀ diperkirakan hanya 0,36.Ā 

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Viral Campak Disebut Sembuh Sendiri Tak Usah Vaksin, Ini Kata Ahli


Most Popular
Features