Sanksi Diperpanjang, Huawei Diblokir Android Hingga 2021?

Tech - Redaksi, CNBC Indonesia
14 May 2020 09:16
In this Oct. 31, 2019, photo, attendees walk past a display for 5G services from Chinese technology firm Huawei at the PT Expo in Beijing. Chinese tech giant Huawei is asking a U.S. federal court to throw out a rule that bars rural phone carriers from using government money to purchase its equipment on security grounds, announced Thursday, Dec. 5, 2019. (AP Photo/Mark Schiefelbein)
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperpanjang masa darurat nasional teknologi selama satu tahun hingga Mei 2021. Artinya, perusahaan AS dilarang menggunakan peralatan telekomunikasi dari Huawei Technologies.

Deklarasi darurat nasional bidang teknologi diumumkan Trump pada Mei 2019. Aturan ini menjadi dasar Departemen Perdagangan AS memasukkan Huawei ke daftar hitam (blacklist).


Anggota Parlemen AS mengatakan aturan ini ditujuan langsung pada perusahaan-perusahaan China, seperti Huawei Technologies dan ZTE Corp, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (14/5/2020). Aturan ini diperpanjang 90 hari sekali tetapi kini langsung satu tahun.


Perusahaan AS yang ingin berbisnis dengan Huawei, mereka harus mendapatkan izin dari Departemen Perdagangan AS. Beberapa perusahaan mendapatkan kelonggaran untu berbisnis dengan Huawei, tetapi Google Android hingga kini belum diizinkan.

Dampak dari kebijakan ini, Ponsel Huawei tidak mendapatkan lisensi Android. Tidak ada aplikasi bawaan Google seperti Gmail, Maps, Play Store, hingga YouTube di ponsel terbaru Huawei.

Perpanjangan sanksi ini akan berdampak buruk bagi Huawei. Bisnis bisa terancam karena ponsel yang tidak memiliki aplikasi bawaan Google tak diminati pengguna luar China. Buktinya sudah terlihat pada kinerja keuangan 2019.

Pada 2019, bisnis consumer Huawei yang paling terpukul dari unit usaha perusahaan. Pemasukan anjlok US$10 miliar menjadi U$66,93 miliar. Divisi ini meliputi bisnis smartphone dan laptop.

Rotating Chairman Huawei, Eric Xu mengatakan perusahaan tidak mencapai target sendiri. Pada awal 2019, Huawei memproyeksikan pendapatan sekitar US$ 123 miliar. Tetapi pada April tahun lalu, pihaknya merevisi target itu menjadi US$ 135 miliar.

"Kami tidak memenuhi target revisi kami, di angka US$ 135 miliar. Kami kekurangan US$ 12 miliar dari target. Ini adalah hasil dari sanksi AS," ujar Eric Xu, seperti dilansir dari CNBC International.

[Gambas:Video CNBC]




(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading