Monetisasi Iklan Tak Jadi, Inikah Cara WhatsApp Cari Untung?

Tech - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
19 January 2020 12:48
Facebook Inc, perusahaan yang mengakuisisi WhatsApp, membatalkan rencananya memonetisasi WhatsApp.

Jakarta, CNBC Indonesia - Facebook Inc, perusahaan yang mengakuisisi WhatsApp, membatalkan rencananya memonetisasi WhatsApp dengan menyisipkan iklan di aplikasi chatting paling populer itu.

Business Insider mewartakan, Facebook telah membubarkan tim yang sejak awal disiapkan untuk memonetisasi layanan WhatsApp melalui iklan seperti di Instagram Stories atau Facebook Stories.

"Iklan akan tetap menjadi peluang jangka panjang bagi perusahaan," tulis Business Insider, dikutip CNBC Indonesia, Ahad (19/1/2020).

Business Insider juga menuliskan, penghentian dilakukan setelah perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg ini, berselisih paham dengan pendiri WhatsApp, Brian Acton dan Jan Koum yang menolak adanya monetisasi dalam bentuk iklan. Keduanya akhirnya hengkang dari perusahaan.



Rencana WhatsApp meraup pundi keuntungan mengemuka saat dua analis media sosial hadir dalam acara Facebook Marketing Summit di Berlin, Jerman pada Mei 2019. Facebook pun sudah mengkonfirmasi rencana ini akan direalisasikan pada 2020.

Matt Navarra, Konsultan Sosial Media melalui akun Twitter pribadinya mengungkapkan, nantinya, pengguna akan melihat iklan ketika mengintip WhatsApp Status orang lain, dan di situlah WhatsApp meraih pendapatan.


WhatsApp didirikan oleh Brian Acton dan Jun Koum pada 2009 silam. Platform ini kemudian diakuisisi Facebook pada 2014 senilai US$ 19 miliar dalam bentuk sebagian uang tunai dan saham Facebook.

Kehadiran iklan di WhatsApp sebenarnya sudah banyak diprediksi berbagai pihak. Pasalnya, Facebook Group merupakan platform periklanan terbesar di dunia di mana pendapatan lebih dari 80% pendapatan perusahaan berasal dari iklan.

Dilansir dari Feedough, (9/1/2020), para pendiri WhatsApp membenci iklan dan menciptakan platform bebas iklan dengan fokus hanya pada pengalaman pengguna dan antarmuka yang bagus.

Saat membuat WhatsApp, Brian Acton dan Jan Koum ingin menciptakan sebuah platform instant messaging untuk pengguna dan bukan untuk perusahaan besar beriklan.

Untuk mendapat keuntungan, mereka memiliki cara yaitu pengguna diharuskan membayar tagihan. Jadi nantinya, WhatsApp akan memiliki versi berbayar dan dikenakan biaya tahunan sebesar $1 dari pengguna.

Sebelum rencana monetisasi, WhatsApp menghasilkan pendapatan dari WhatsApp Business yang ditujukan sebagai tempat berikan dan berkomunikasi penjual dengan pembelinya.

Dengan batalnya rencana ini, akankah WhatsApp mengenakan biaya berlangganan US$1 atau Rp 14.000 per tahun ini?

Kepada Business Insider, Juru Bicara Facebook mengatakan sekarang WhatsApp akan fokus untuk membangun fitur yang menjembatani pelaku bisnis berkomunikasi dengan pelanggan di dalam applikasi, disamping mengembangkan sistem pembayaran di negara lain.

Menurutnya iklan akan menjadi peluang jangka panjang dan belum ditetapkan waktu penerapannya di dalam
platform.


[Gambas:Video CNBC]




(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading