Curhat Mantan Bos Menyesal Jual WhatsApp ke Facebook

Tech - Tim, CNBC Indonesia
05 May 2022 15:15
FILE PHOTO: A man poses with a smartphone in front of displayed Whatsapp logo in this illustration September 14, 2017. REUTERS/Dado Ruvic/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada 2014, dunia dihebohkan atas aksi akuisisi WhatsApp oleh Facebook senilai US$22 miliar. Ini menjadi salah satu aksi korporasi terbesar kala itu.

Kini para mantan petinggi WhatsApp mengungkapkan penyesalannya setelah akuisisi terjadi. Terbaru adalah Neeraj Arora yang pernah menduduki jabatan sebagai Chief Business Officer WhatsApp.

Dalam akun LinkedIn pribadinya, Neeraj Arora menceritakan WhatsApp didirikan oleh Brian Acton dan Jam Koum. Pada 2011, Neeraj Arora bergabung dengan WhatsApp sebagai salah satu top manajemen. Ia meninggalkan Facebook pada 2018 silam.


"Pada 2014, saya merupakan Chief Business officer WhatsApp dan membantu negosiasi penjualan WhatsApp senilai US$22 miliar ke Facebook. Sekarang saya menyesalinya," tulis Neeraj Arora seperti dikutip dari LinkedIn, Kamis (5/5/2022).

Neeraj Arora mengungkapkan dua tahun sebelum akuisisi terjadi, Mark Zuckerberg dan Facebook pernah mendekati para petinggi WhatsApp untuk aksi korporasi tersebut. Namun manajemen menolak dan memutuskan untuk fokus pada pertumbuhan perusahaan.

Pada awal 2014, Facebook kembali mencoba mengakuisisi WhatsApp dengan tawaran mirip seperti kemitraan dalam bentuk di antaranya mereka menjanjikan dukungan penuh terhadap fitur keamanan end-to-end encryption, tidak ada iklan pada WhatsApp, independensi penuh pada keputusan produk, kursi dewan direksi untuk Jam Koum dan kantor sendiri.

Neeraj Arora (Tangkapan Layar via Linkedin)Foto: Neeraj Arora mantan Chief Business Officer WhatsApp (Tangkapan Layar via Linkedin)

Neeraj Arora juga bercerita rencana awal bagaimana WhatsApp menghasilkan uang dari layanannya dengan mengenakan biaya US$1 untuk pengunduh aplikasi. Ia menyebut Facebook mendukung rencana tersebut.

"Saat kami mulai berbicara akuisisi, pendirian kami sangat jelas. Tidak ada penambangan data pengguna, tidak ada iklan, dan tidak ada pelacakan lintas platform. Facebook dan manajemennya setuju dengan itu dan kami pikir mereka percaya pada misi kami. Tentu saja, bukan itu yang terjadi," ungkap Neeraj Arora.

Namun pada 2017 dan 2018, Facebook ternyata tak menepati janji. Terkuaknya skandal Cambridge Analytica membuka mata akan adanya praktik penambangan data pengguna dan melibatkan sejumlah uang dari korporasi. Atas masalah ini pendiri WhatsApp Brian Acton meneriakkan #hapusfacebook dan mengguncang media sosial.

Menurut Neeraj Arora, saat ini WhatsApp adalah platform terbesar kedua setelah Facebook. Bahkan lebih besar dari Instagram atau FB Messenger. Namun WhatsApp sekarang hanya bayangan dari produk yang dikembangkan oleh tim lama untuk diberikan pada dunia.

"Saya bukan satu-satunya yang menyesal telah menjadi bagian dari Facebook ketika itu terjadi," kata Neeraj Arora.

Neeraj Arora juga menyarankan agar perusahaan teknologi perlu mengakui ketika mereka membuat kesalahan. Tidak ada yang tahu pada awalnya Facebook akan menjadi monster Frankestain yang melahap data pengguna dan mengeluarkan uang kotor.

"Agar Silicon Valley berkembang, kita perlu berbicara tentang bagaimana model bisnis yang salah menyebabkan produk, layanan, dan ide yang bermaksud baik menjadi salah," pungkas Neeraj Arora.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rahasia Cara Chatting Whatsapp Gratis Tanpa Kuota Sepeserpun


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading