Drone RI Vs Drone AS yang Bunuh Soleimani, Lebih Keren Mana?

Tech - Arif Budiansyah, CNBC Indonesia
07 January 2020 10:49
Belakangan ini dunia dihebohnya terbunuhnya pemimpin militer Iran Qasem Soleimani oleh serangan militer AS menggunakn drone.
Jakarta, CNBC Indonesia - Belakangan ini, dunia sedang dihebohkan karena pemimpin militer Iran Jenderal Qasem Soleimani tewas oleh serangan militer Amerika Serikat (AS) menggunakan drone (pesawat tanpa awak) yaitu MQ-9 Reaper.

MQ-9 Reaper sering digunakan sebagai alat pengintai terhadap target berprofil tinggi, sensitif terhadap waktu, bisa membantu untuk mencari target dan digunakan untuk operasi perang yang tidak teratur.


Drone ini diterbangkan dari markas US Central Command yang berlokasi di Qatar. Pesawat tanpa awak ini memiliki daya jelajah 1.150 mil dengan kemampuan terbang di ketinggian 50.000 kaki. 


MQ-9 Reaper disebut sebagai drone "bersenjata, multi misi, daya terbang menengah dan tahan lama", seperti dikutip dari New York Post, Senin (6/1/2020). Drone berharga US$64,2 juta per unit (Rp 898,9 miliar) ini dapat membawa 4 misil Hellfire berdaya ledak cukup dasyat dan mampu menghancurkan tank.

Drone RI Vs Drone AS yang Bunuh Soleimani, Lebih Keren Mana?Foto: MQ-9 Reaper (Dok. General Atomics Aeronautical Systems)

Namun tahukah kamu bahwa Indonesia saat ini sedang mengembangkan drone pengintai? Drone ini dikembangkan konsorsium yang terdiri dari BPPT, Kemenhan, TNI AU, PT DI, PT Len, dan ITB sudah mampu membuat prototipe pesawat drone bertipe Medium Altitude Long Endurance (MALE) bernama 'Black Eangle' atau Elang Hitam.

Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Wahyu Widodo Pandoe kepada CNBC Indonesia, mengatakan unit drone MALE yang hari ini (30/12) mulai roll out atau keluar hanggar PT DI di Bandung adalah prototipe pertama dari rencana empat prototipe hingga 2022.

Drone RI Vs Drone AS yang Bunuh Soleimani, Lebih Keren Mana?Foto: Anggota Konsorsium Drone tipe MALE, Gelar seremoni Roll Out Drone atau Pesawat Udara Nir Awak.(BPPT-RI)

"Sekarang prototipe pertama untuk development, lalu kedua pada 2020 untuk kepentingan sertifikasi, prototipe ketiga uji struktur pada 2021, dan prototipe ke-empat pada 2022 untuk kombatan," kata Wahyu, Senin (30/12).

Wahyu mengatakan pada prototipe kombatan, maka drone Male bisa membawa senjata antara lain rudal, bom dan lainnya yang dirancang maksimal berbobot 300 kg. Drone Male ini akan diproduksi oleh PT DI, pihak BPPT hanya menyiapkan proses sampai tahap siap produksi massal termasuk memastikan lolos uji sertifikasi.

Drone Male ini mampu terbang selama 24 jam dan mencapai ketinggian 30.000 kaki, drone ini membawa kamera dan radar. Pesawat ini untuk pengawasan perbatasan yang difungsikan untuk pertahanan dan keamanan wilayah.

"Mampu terbang 30 jam, tergantung pilot, yang kita desain 24 jam," katanya.

[Gambas:Video CNBC]




(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading