Startup WeWork: Dulu Bernilai Rp685 T, Kini Anjlok ke Rp112 T

Tech - Redaksi, CNBC Indonesia
22 October 2019 11:14
Startup WeWork: Dulu Bernilai Rp685 T, Kini Anjlok ke Rp112 T
Jakarta, CNBC Indonesia - WeWork pernah menyandang status sebagai salah satu startup paling bernilai di dunia. Namun kini, startup berbagi ruang kantor (coworking space) ini sedang bermasalah dan mengemis kebaikan hati investornya.

WeWork terganjal masalah karena aktivitas bakar uang yang masif yang membuat perusahaan menghadapi kesulitan uang tunai. Faktor lainnya, gaya hidup pendiri Adam Neumann yang bermewah-mewahan.


WeWork sebenarnya berencana untuk menarik dana dari pasar modal melalui IPO dan pinjaman perbankan. Total nilainya mencapai US$9 miliar. Namun rencana ini gagal karena investor mempertanyakan tata kelola perusahaan.


Batalnya kebijakan membuat perusahaan tidak memiliki pasokan uang tunai dan terancam kehabisan uang tunai bulan depan. Manajemen pun memutuskan untuk menjual bisnis yang buka merupakan core perusahaan.

Startup WeWork: Dulu Bernilai Rp685 T, Kini Anjlok ke Rp112 TFoto: Bobby Yip/Reuters

Selain itu, WeWork merencanakan pembatasan hubungan kerja (PHK) antara 2.000 hingga 15.000 karyawan. Namun aksi ini ditunda sementara. Alasan WeWork tak memiliki dana tunai untuk membayar pesangon karyawan.

Masalah ini tampaknya sudah terselesaikan. Menurut sumber CNBC International, SoftBank akan menjadi penyelamat WeWork. Perusahaan yang didirikan Masayoshi Son ini akan menyuntikkan dana US$4 -5 miliar ke WeWork. SoftBank akan menguasai 70% lebih saham perusahaan.


Namun yang mengejutkan, dalam dokumen terbaru WeWork kini bervaluasi US$7,5 miliar hingga US$8 miliar atau setara Rp 112 T. Padahal sebelum IPO valuasi perusahaan mencapai US$47 miliar (Rp 658 T).

Setelah suntikan dana tersebut, eksekutif SoftBank Marcelo Claure akan masuk ke WeWork dan diprediksi akan menjadi chairman perusahaan. Alex Neumann tidak akan lagi berada di struktur perusahaan.



(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading