Trump Mau Investigasi, Ini Yang Dilakukan Google di China

Tech - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
18 July 2019 13:18
Trump Mau Investigasi, Ini Yang Dilakukan Google di China
Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS), Google dan operasional perseroan di China belakangan jadi perbincangan. Ini setelah miliarder Peter Thiel melayangkan tuduhan serius.

Thiel menuduh Google menjalin kerja sama dengan militer Negeri Tirai Bambu. Oleh karena itu, dia meminta Pemerintah AS untuk menyelidiki Google. Menanggapi hal itu, Trump memastikan akan melakukan investigasi terhadap anak perusahaan Alphabet Inc tersebut. Namun, mengutip CNBC International, Google membantah bekerja dengan militer China.

Kabar tersebut telah membuat orang-orang tertarik untuk mengetahui apa saja yang Google lakukan dengan China. Berikut perinciannya.


'Project Dragonfly'
Google mengakhiri bisnis layanan pencarian (Google Search) di China pada 2010. Layanan itu pun secara efektif diblokir di Negeri Tirai Bambu.

Namun, sebuah laporan muncul tahun lalu dan menyatakan Google sedang berupaya untuk meluncurkan versi aplikasi dari layanan pencarian yang disensor di China. Inisiatif yang diakui perusahaan secara terbuka itu berada pada tahap awal. Di China, semua layanan internet diharuskan untuk menyensor informasi yang dianggap sensitif oleh pemerintah.

Vice President of Global Government Affairs and Public Policy Google Karan Bhatia pada pekan ini menyatakan Google telah meninggalkan rencana untuk meluncurkan "Project Dragonfly", nama tersebut.

Jadi, saat ini, Google masih diblokir di China dan hanya dapat diakses melalui jaringan pribadi virtual (VPN). VPN berfungsi membantu menutupi lokasi internet pengguna.

Foto: Infografis/Mengenal Artificial Intelligence dan Cara Kerjanya/Arie Pratama


Riset kecerdasan Artificial Intelligence (AI)
Salah satu tuduhan Thiel adalah mata-mata China telah menyusup ke proyek kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) Google. Akan tetapi dia tidak memberikan bukti apa pun.

Google memang memiliki proyek AI di China. Pada 2017, perusahaan membuka pusat penelitian AI di Negeri Tirai Bambu.

Di situs webnya, Google mengatakan penelitian AI di China difokuskan pada pendidikan dan program pemahaman bahasa. Program ini mengacu pada teknik AI yang berfokus untuk membuat mesin yang bisa memahami bahasa manusia. Google sedang berusaha untuk menerapkan AI dalam pelelangan sehingga proses penawaran untuk iklan bisa lebih efisien. Hal ini penting untuk Google yang juga terjun di market periklanan.

Di China, pekerjaan ini juga berkontribusi pada produk AI yang disediakan Google secara global, seperti TensorFlow. Ini adalah perpustakaan open source yang dapat membantu perusahaan lain mengembangkan produk AI.



Komputasi awan (Cloud Computing)
Raksasa teknologi seperti Alibaba dan Tencent mendominasi pasar cloud computing di China. Jadi taktik Google adalah mencoba menjual produk cloud-nya ke perusahaan-perusahaan China yang memiliki operasi internasional di Asia Tenggara dan di wilayah lain.

Unggahan lowongan pekerjaan Google di China menunjukkan perusahaan sedang mencari insinyur komputasi awan, manajer data, penjualan dan pengembangan bisnis di Beijing, Shanghai dan Shenzhen.

Perusahaan ini juga mempekerjakan orang untuk menargetkan pelanggan di industri tertentu, mulai dari media dan hiburan hingga manufaktur.
Perangkat keras

Google menjual sejumlah produk perangkat keras termasuk smartphone, smart speaker, dan termostat, di bawah merek Nest yang dimilikinya. Beberapa di antaranya diproduksi di China.

Saat ini, perusahaan membuka lowongan pekerjaan untuk insinyur untuk menguji produk dan mencari manajer rantai pasokan dan manufaktur. Di LinkedIn, sejumlah karyawan Google di Shenzhen, pusat teknologi utama di China, mencantumkan pekerjaan mereka sebagai posisi yang terkait dengan perangkat keras.

Namun, Bloomberg melaporkan pada bulan Juni bahwa Google telah memindahkan produksi beberapa termostat Nest dan perangkat keras server keluar dari China untuk menghindari tarif impor dari AS.

Foto: Google Cloud (CNBC Indonesia/Tito Bosnia)


Aplikasi dan Google Play Store
Google Play Store diblokir di China. Jadi Google bersama dengan pengembang aplikasi di China berusaha untuk membawa produk mereka ke Play Store di pasar internasional.

Di dalam daftar lowongan pekerjaannya, Google mengiklankan dua lowongan untuk manajer pengembangan bisnis yang terkait dengan play store. Google juga memiliki peran untuk bidang permainan (game) di Google Play Store. Game adalah bagian besar dari app store-nya.



Iklan
Periklanan adalah bagian inti dari pendapatan Google. Tetapi karena layanannya diblokir di China, perusahaan tidak dapat benar-benar menjual iklan via platformnya di sana. Jadi Google berfokus pada bisnis Negeri Tirai Bambu yang ingin beriklan di platform Google di luar negeri, baik itu di mesin pencarian, YouTube atau yang lainnya.

Terkait ini, Google membuka lowongan pekerjaan untuk seorang konsultan pengembangan bisnis di Shanghai yang akan "bertanggung jawab untuk mendorong pertumbuhan bisnis dan menarik pengiklan baru berukuran sedang hingga besar untuk Google." Ada juga pekerjaan untuk orang yang akan fokus mendapatkan pengiklan dari industri tertentu seperti ritel atau hiburan.

[Gambas:Video CNBC] (miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading