Internasional

Monetisasi Media Sosial Marak, Jual Beli Follower Jadi Solusi

Tech - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
20 February 2018 14:20
Monetisasi Media Sosial Marak, Jual Beli Follower Jadi Solusi
Jakarta, CNBC Indonesia - Melonjaknya popularitas media sosial mengubah tidak hanya cara para penggunanya berinteraksi namun juga cara beriklan hingga mencari tambahan uang.

Tahun lalu, tiga miliar pengguna masuk ke jejaring media sosial seperti Facebook, WhatsApp, dan Sina Weibo dari China. Kerinduan kolektif dunia akan koneksi tidak hanya membentuk ulang daftar perusahaan Fortune 500 dan menjungkirbalikkan industri periklanan, tapi juga menciptakan ukuran status sosial baru: jumlah orang yang mengikuti, menyukai, atau menjadi “teman” Anda.

Untuk sebagian pekerja di dunia hiburan dan pebisnis, status virtual ini adalah mata uang di dunia nyata. Jumlah follower di jejaring sosial membantu menentukan siapa yang akan mempekerjakan mereka, berapa bayaran mereka untuk pemesanan dan endorsement, bahkan bagaimana konsumen potensial menilai bisnis dan produk mereka.


Jumlah follower yang tinggi juga penting untuk mereka yang disebut sebagai influencer atau pesohor media sosial. Semakin banyak orang yang dijangkau oleh influencer, semakin banyak uang yang mereka dapatkan.


Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Captiv8, perusahaan yang menghubungkan influencer dengan merek yang menyewa mereka, seorang influencer dengan 100.000 follower bisa jadi memperoleh rata-rata US$2.000 (Rp 27,2 juta) untuk tweet promosi, sementara influencer dengan jutaan follower diperkirakan memperoleh $20.000, demikian dilaporkan oleh The New York Times (NYT) baru-baru ini.

Ketenaran sejati seringkali diterjemahkan sebagai pengaruh media sosial yang juga sejati karena penggemar mengikuti dan menyukai bintang film, koki selebriti, dan model favorit mereka di media sosial. Namun, jalan pintas juga tersedia.

Pada situs-situs seperti Social Envy dan DIYLikes.com, sangatlah murah untuk membeli pengikut dalam jumlah banyak di hampir semua kanal media sosial. Sebagian besar situs tersebut menawarkan apa yang mereka sebut sebagai follower “aktif” atau “organik”, tanpa pernah menyebutkan apakah yang berada di balik akun tersebut adalah orang asli atau bukan. Setelah pembelian, follower bisa menjadi alat yang sangat kuat.

“Ketika Anda melihat jumlah follower atau retweet yang lebih banyak, maka Anda akan berasumsi bahwa orang ini sangat penting dan tweet-nya diterima dengan baik,” kata Rand Fishkin, pendiri Moz, perusahaan yang membuat perangkat lunak untuk pengoptimalan mesin telusur (search engine optimization/SEO).

“Alhasil, Anda akan cenderung menguatkan dan menyebarkannya, atau mengikuti orang tersebut.”

Twitter dan Facebook bisa jadi sama-sama terpengaruh.

“Kanal sosial mencoba untuk merekomendasikan produk, dan mereka mengatakan, ‘Apakah produk yang kami tawarkan populer?’” kata Julian Tempelsman, salah satu pendiri Smyte, perusahaan sekuritas yang membantu perusahaan untuk melawan penyalahgunaan, bot, dan penipuan online.

“Jumlah follower adalah salah satu faktor yang digunakan kanal media sosial.”

Cobalah mencari cara untuk membeli lebih banyak follower di Google, maka Devumi akan muncul di halaman pencarian pertama. Para pengunjung situs itu akan disambut dengan tampilan daftar alamat di Manhattan, pujian dari konsumen, dan jaminan uang kembali.

“Kami hanya menggunakan teknik promosi yang disetujui oleh Twitter, sehingga akun Anda tidak akan berisiko untuk dihentikan atau dihukum,” janji Devumi lewat situsnya.

Untuk memahami bisnis Devumi lebih baik, tim NYT menyamar menjadi konsumen.

Pada bulan April, tim membuat satu akun Twitter dan membayar $225 ke Devumi untuk mendapatkan 25.000 follower, atau sekitar satu sen per akun. Seperti yang sudah diiklankan, sekitar 10.000 follower pertama nampak seperti orang asli. Mereka memilki foto dan nama lengkap, kota asal, dan seringkali biografi yang nampak otentik. Satu akun terlihat seperti miliki Rychly, perempuan muda asal Minnesota yang dicuri identitasnya.

Namun, jika diperhatikan dengan saksama, beberapa detail nampak kurang akurat. Nama-nama akun memiliki huruf ekstra atau garis bawah, atau huruf pengganti yang mudah untuk dilewatkan, seperti huruf kecil “L” yang menggantikan huruf kapital “I”.

Sejumlah 15.000 follower setelahnya dari Devumi nampak sangat mencurigakan: tidak ada foto profil dan akun tersebut dinamakan dengan huruf, angka, dan bagian kata yang berantakan.


Pada bulan Agustus, reporter NYT mengirim surel ke pendiri Devumi, German Calas, menanyakan apakah ia berkenan untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang Devumi. Namun, Calas tidak merespons.

Twitter melarang penjualan dan pembelian follower atau retweet, dan Devumi menjanjikan keleluasaan yang mutlak.

“Informasi Anda selalu dijaga sebagai rahasia,” menurut penjelasan di situsnya. “Follower dari kami terlihat seperti follower yang lain dan kami selalu mengirim mereka dengan natural. Satu-satunya cara orang dapat mengetahuinya adalah dengan memberi tahu mereka.” (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading