Pekan Lalu Jeblok, Kurs Riyal Hari Ini Merangkak Naik

Syariah - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
16 December 2019 12:24
Pada Jumat lalu, kurs riyal jeblok nyaris 0,5% ke Rp 3.739/SAR. Seperti ini pergerakan kurs riyal hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar riyal Arab Saudi (SAR) menguat melawan rupiah pada perdagangan Senin (16/12/2018) setelah jeblok hingga menyentuh level terendah tiga bulan pada Jumat pekan lalu.

Pada pukul 11:40 WIB, SAR 1 setara dengan Rp 3.733, riyal menguat 0,16% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Penguatan di pasar spot berdampak pada kurs dolar Australia di dalam negeri, berikut kurs jual beli yang diambil dari beberapa situs resmi bank pada pukul 11:45 WIB.


BankKurs BeliKurs Jual
Bank BNI3.770,003.704,00
Bank BRI3.713,373.739,57
Bank Mandiri3.720,003.755,00
Bank BTN3.502,003.942,00
Bank BCA3.723,673.753,67
CIMB Niaga3.733,003.740,00


Pada Jumat lalu, kurs riyal jeblok nyaris 0,5% ke Rp 3.739/SAR, yang merupakan level terlemah sejak 13 September.

Sementara itu, penguatan hari ini dipicu oleh kesepakatan dagang fase satu Amerika Serikat (AS) dengan China. Dengan adanya kesepakatan dagang tersebut, roda perekonomian global diharapkan bisa terakselerasi, dan pertumbuhan ekonomi bisa bangkit.

Ketika roda perekonomian bergerak lebih kencang, maka permintaan akan minyak mentah akan meningkat, Arab Saudi sebagai salah satu eksportir terbesar tentunya akan mendapat peningkatan pendapatan.

Rupiah sebenarnya juga mendapat sentimen positif dari kesepakatan dagang fase satu. Tetapi penguatan cukup tajam di hari Jumat tentunya memicu aksi ambil untung (profit taking). Selain itu, mata Uang Garuda sedang mendapat tekanan pada hari ini, neraca dagang RI kembali mencatat defisit di bulan November.



Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pagi ini menunjukkan ekspor November 2019 mengalami penurunan 5,67% year-on-year (YoY) menjadi US$ 14,01 miliar. Sedangkan untuk impor mencapai US$ 15,34 miliar atau turun 9,24% YoY. Dampaknya, neraca dagang menjadi defisit US$ 1,33 miliar, padahal di bulan Oktober mencatat surplus US$ 170 juta.

Defisit tersebut lebih besar dari konsensus pasar yang dikumpulkan CNBC Indonesia. Berdasarkan konsensus tersebut, ekspor diprediksi terkontraksi atau tumbuh negatif 2,05% YoY. Kemudian impor juga mengalami kontraksi 13,41% YoY, dan neraca perdagangan defisit US$ 132 juta.

Meski melemah pada hari, tetapi jika dilihat sepanjang Desember riyal masih melemah 0,72%, dan secara year-to-date atau sejak awal tahun melemah 2,27%.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading