Manajemen Bank Muamalat: Banyak Investor Mau Masuk Muamalat

Syariah - Gita Rossiana, CNBC Indonesia
11 April 2018 19:09
Manajemen Bank Muamalat: Banyak Investor Mau Masuk Muamalat
Jakarta, CNBC Indonesia- "Jangan gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga," ujar Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Andreas Eddy Susetyo. Pernyataan ini diungkapkannya dalam Rapat Kerja (Raker) dengan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Ungkapan ini dimaksudkan agar permasalah Bank syariah pertama di Indonesia ini diselesaikan secepatnya, tidak berlarut-larut dan berdampak negatif pada bank- bank syariah lainnya.

Belakangan Bank Muamalat memang menjadi perhatian banyak pihak. Bank Muamalat sedang mencari tambahan modal dari investor setelah investor dari Timur Tengah tak bersedia menyuntikkan modal. Investor lokal yang ingin suntik modal, PT Minna Padi Investama Tbk urung suntikkan modal setelah perjanjian sebagai investor berakhir pada Desember 2017. DPR pun memberikan perhatian dengan menyelenggarakan raker pada hari ini (11/4/2018).

Di hadapan anggota komisi XI DPR RI, Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K. Permana menjelaskan, dari segi likuiditas sebenarnya Bank Muamalat tidak memiliki permasalahan. Perolehan dana pihak ketiga (DPK) Bank Muamalat bertumbuh 16,14% ke angka Rp 48,68 triliun. Perolehan ini lebih tinggi dari pertumbuhan pembiayaan yang meningkat 3,19% ke angka Rp 41,28 triliun.

Rasio kredit bermasalah atau non performing financing (NPF) tak ada bermasalah. Pasalnya, NPF gross pada 2017 berada di angka 4,43%, meski mengalami peningkatan dari 2016 yang sebesar 3,8%.


Menurut Ahmad Permana yang menjadi permasalahan di Bank Muamalat saat ini penambahan modal yang saat ini tidak bisa dipenuhi oleh pemegang saham existing. Padahal dengan adanya penambahan modal tersebut, perseroan bisa berkembang lebih pesat dari nilai aset yang saat ini tidak bergeser dari angka Rp 62 triliun.

Sebagai bos baru, Ahmad Permana sudah punya rencana bila dapat suntikan modal. Mantan direktur Bank Permata ini ingin mengkreasikan bisnis baru yang berfokus pada Islamic segment seperti haji dan umroh, pesantren, makanan halal dan bisnis lain yang beda dengan bank syariah lainnya.

Eksekusi mengenai penambahan modal ini, menurut Permana memang membutuhkan waktu. Pasalnya, harus ada campur tangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang harus mengevaluasi apakah investor tersebut sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

Ahmad Permana mengklaim banyak banyak investor yang berdatangan untuk mendekati Bank Muamalat. "Ada investor dari Singapura, Malaysia, Hongkong dan Timur Tengah,"kata dia.

Bahkan, Permana juga berharap pemerintah bisa menjadi bagian dari penambahan modal ini. Hal ini bisa dilakukan melalui bank negara, bank syariah milik negara, Badan Pengelolaan Keuangan Haji (BPKH) ataupun investor institusi.

Evi Zainal Abidin, salah satu anggota komisi XI DPR RI menyoroti langkah Yusuf Mansur yang membawa jamaahnya ramai-ramai menabung di Bank Muamalat. Aksi ini memang merupakan aksi fanatisme agar bank syariah dimiliki oleh umat muslim.

"Fanatisme untuk membuka rekening bisa memberikan dana segar, ada target 2 juta rekening yang bisa membawa dana Rp 200-300 miliar masuk,"ujar dia.

Anggota Komisi XI DPR yang lain, Hendrawan Supraktikno menitip pesan pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membantu Bank Muamalat. "Pak Wimboh dan Pak Heru jangan mengulur-ngulur waktu, karena waktu tidak akan mengobati permasalahan ini, saya minta OJK pro aktif menyelesaikan permasalahan ini,"kata dia.
(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading