BRI Syariah dan BTPN Syariah Berencana IPO, Akankah Berhasil?

Syariah - Gita Rossiana, CNBC Indonesia
04 April 2018 09:49
Sebanyak dua bank syariah berencana melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada 2018.
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak dua bank syariah berencana melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada 2018. Rencana IPO kedua bank syariah tersebut cukup menyita perhatian karena belum banyak bank syariah yang berani melenggang ke pasar saham.

Analis PT Recapital Sekuritas Indonesia Kiswoyo Adi Joe menjelaskan, patokan dari saham kedua bank syariah ini diterima oleh masyarakat adalah indeks harga saham gabungan (IHSG).

"Selama IHSG naik, IPO akan laku. Kalau IHSG turun, maka IPO tidak akan laku," ujar dia kepada CNBC Indonesia, Selasa (3/4/2018).


Namun memang belum banyak bank syariah yang bisa dijadikan contoh untuk melihat antusiasme investor di pasar modal. Pasalnya, PT Bank Muamalat Indonesia yang berstatus terbuka tidak memperdagangkan sahamnya.

Sedangkan PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk, harga sahamnya tidak banyak mengalami pergerakan di angka Rp 95 per lembar saham dengan kapitalisasi sebesar Rp 958,36 miliar.

"Ya, karena bank kecil," kata dia.

Investor, lanjut dia masih berfokus pada saham-saham bank yang masuk LQ45. Pasalnya saham-saham tersebut cenderung lebih likuid.

Berbeda dengan Kiswoyo, Pendiri Karim Consulting sekaligus Pengamat Keuangan Syariah Adiwarman Karim sangat optimistis terhadap IPO kedua bank syariah tersebut, terutama untuk PT BTPN Syariah.

"BTPN Syariah bagus sekali ROA dan ROE-nya," kata dia.

Selain itu, dia juga mendukung rencana IPO tersebut. Pasalnya, hal tersebut bisa mendukung lebih banyak bank umum syariah naik ke BUKU III.

Namun memang, menurut Adiwarman, bank syariah yang sudah melantai di bursa harus menjaga kinerjanya. Hal ini terutama terkait perolehan laba.

Sementara itu, tahun ini, dua bank syariah yang berencana IPO adalah BTPN Syariah dan PT BRI Syariah. Untuk BTPN Syariah, perseroan berencana menerbitkan hingga 770,37 juta lembar saham baru atau sekitar 10% dari modal ditempatkan dan disetor. Adapun harga saham yang ditetapkan berkisar Rp 900-980.

Masa penawaran awal (book building) akan berlangsung sejak 27 Maret sampai dengan 6 April 2018, dengan rencana tanggal efektif pada 16 April, sedangkan Masa Penawaran Umum (Offering Period) direncanakan terjadi pada 18 - 20 April nanti.

Direktur Utama BTPN Syariah Ratih Rachmawaty menjelaskan, IPO ini merupakan langkah strategis perusahaan untuk menjalankan bisnis secara lebih terbuka. Selain itu, melalui IPO ini, manajemen memberi kesempatan kepada khalayak luas untuk terlibat dalam memberdayakan mass market, khususnya masyarakat prasejahtera produktif.

BACA : BTPN Syariah Siap IPO, Harga Saham Rp 900-980 per Lembar

Hingga akhir Desember 2017, total aset perseroa mencapai Rp 9,2 triliun atau tumbuh 25,0% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Dana Pihak Ketiga mencapai Rp6,5 triliun atau tumbuh 21,5%. Sedangkan pembiayaan yang disalurkan sebesar Rp6,1 triliun, tumbuh 21,1%.

Di sisi lain, BRI Syariah berencana melepas sahamnya ke publik sebanyak-banyaknya 30% ke publik pada Juni mendatang. Direktur Utama BRI Syariah Hadi Santoso mengatakan dasar dari rencana IPO perusahaan tahun ini adalah agar ekspansi perusahaan menjadi lebih mudah.

"Pokoknya kami kepingin jadi BUKU III, sekarang masih BUKU II," kata Hadi.

Untuk menjadi BUKU III, BRI Syariah harus memiliki modal inti minimal Rp 5 triliun. Sementara hingga akhir Desember 2017 lalu, modal inti perusahaan baru mencapai Rp 2,45 triliun. Beberapa waktu lalu, perusahaan juga telah menerima suntikan dana dari induk usahanya, PT Bank BRI Tbk (BBRI) senilai Rp 1 triliun. Dengan asumsi demikian, maka perusahaan masih membutuhkan dana kurang lebih sebesar Rp 1,5 triliun.

Sayangnya laba bersih perseroan sepanjang 2017 hanya mencapai Rp 101,09 miliar. Angka ini mengalami penurunan yang cukup dalam hingga 40% dari periode 2016 yang sebesar Rp 170,2 miliar.

Beban usaha perseroan tercatat mengalami kenaikan dari Rp 1,16 triliun di 2016 menjadi Rp 1,17 triliun di 2018. Laba usaha perseroan turun drastis dari Rp 239,2 miliar menjadi Rp 139,59 miliar di 2017.

Perseroan mengalokasikan beban cadangan kerugian sebesar Rp 453 miliar di 2017. Total aset perseroan di 2016 tercatat meningkat dari Rp 27,68 triliun menjadi Rp 31,54 triliun di 2017.

BACA : Laba BRI Syariah 2017 Jatuh 40%, Hanya Capai Rp 101 M
(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading