MARKET DATA
Newsletter

Awas! IHSG - Rupiah Bisa Terguncang Hari Ini

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
04 November 2026 06:30
Ilustrasi bearish market vs bullish market
Foto: Pixabay/gerd Altmann

Indeks Nasdaq Composite mayoritas menguat pada perdagangan Selasa (3/11/2026) atau Rabu dini hari wkatu Indonesia, seiring investor kembali memburu saham-saham teknologi utama setelah sempat tertekan dalam beberapa hari terakhir. Pelaku pasar juga mencermati hasil Pemilu Sela Amerika Serikat (AS) atau midterm elections.

Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melonjak 0,83% dan ditutup di level 25.372,01, sekaligus memangkas sebagian kerugian sebelumnya.

Nasdaq-100 turut menguat 0,7% ke posisi 28.180,26. Meski demikian, indeks tersebut masih berada di zona koreksi, atau terkoreksi sekitar 10% dari level tertinggi terbarunya.

Sementara itu, indeks S&P 500 naik 0,36% ke 7.568,92 sekaligus mengakhiri tren pelemahan selama tiga hari berturut-turut.

Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average melemah 197,26 poin atau 0,38% ke level 51.786,72. Penurunan saham Apple menjadi salah satu pemberat indeks yang berisi 30 saham unggulan tersebut.

Saham Apple anjlok hampir 2% setelah produsen iPhone itu merilis proyeksi margin keuntungan yang mengecewakan pada Senin malam. Penjualan iPad pada kuartal IV tahun fiskal juga meleset dari ekspektasi analis.

Berbeda dengan Apple, saham-saham produsen chip justru menghijau. Advanced Micro Devices (AMD), yang dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal III setelah penutupan perdagangan, melesat lebih dari 3%.

Broadcom juga menguat 3%. Sementara itu, saham Micron Technology dan Nvidia masing-masing naik lebih dari 2%.

Penguatan pada Selasa menjadi pembalikan arah setelah Nasdaq merosot lebih dari 1% pada perdagangan Senin. Pelemahan tersebut sekaligus memperpanjang koreksi Nasdaq Composite dan S&P 500 menjadi tiga hari berturut-turut.

Meski saham produsen semikonduktor dan perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI) mulai bangkit, Shawn Snyder dari Potomac Fund Management menilai pasar saham belum sepenuhnya terbebas dari tekanan.

"Kekhawatiran mengenai biaya modal dan besarnya pembiayaan utang yang dibutuhkan masih akan bertahan cukup lama," ujar Snyder kepada CNBC International.

Namun, ia menilai perdagangan saham yang bertumpu pada ekspansi infrastruktur AI mungkin mulai mendekati wilayah jenuh jual (oversold).

Menurutnya, saham-saham terkait AI masih berpotensi terkoreksi 4%-5%. Namun, jika pelemahan tersebut tidak disertai resesi, tekanan pasar biasanya akan mulai mereda pada level tersebut.

Di pasar komoditas, harga minyak berbalik melemah di tengah spekulasi adanya kemajuan dalam perundingan antara AS dan Iran.

Minyak mentah Brent turun 1,12% dan ditutup di US$103,60 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,38% ke US$96,09 per barel.

Pemilu Sela AS Jadi Fokus Pasar

Selain pergerakan saham teknologi, investor juga mencermati Pemilu Sela AS yang berlangsung pada Selasa (3/11/2026).

Pemilu ini akan menentukan partai yang menguasai DPR dan Senat AS mulai Januari mendatang. Pelaku pasar prediksi (prediction market) memperkirakan peluang Partai Demokrat merebut kendali Senat mencapai hampir 75%.

Jika Partai Demokrat berhasil menguasai sekaligus DPR dan Senat, pasar saham berpotensi mendapat tekanan pada perdagangan Rabu. Saham-saham teknologi, khususnya sektor AI, bahkan berisiko mengalami aksi jual jika investor belum mengantisipasi skenario tersebut.

Sebaliknya, jika Partai Republik berhasil mempertahankan kendali atas Senat atau kedua kamar Kongres, pasar berpeluang mencatatkan penguatan dalam jangka pendek. Demikian analisis JPMorgan pekan ini.

Meski Presiden Donald Trump masih menduduki Gedung Putih, kemenangan Demokrat di salah satu atau kedua kamar Kongres dapat mengubah arah penyelidikan dan pengawasan terhadap kebijakan pemerintah di Washington.

Hal ini menjadi perhatian sejumlah industri, termasuk pertahanan, kecerdasan buatan, dan layanan kesehatan.

Namun, Snyder dari Potomac Fund Management menilai pasar masih berpeluang melanjutkan penguatan setelah pemilu, terlepas dari siapa yang keluar sebagai pemenang.

"Perdagangan saham berbasis AI sudah lebih dulu terpukul. Jika digabungkan dengan meredanya ketidakpastian setelah pemilu sela, kondisi ini berpotensi memicu reli pemulihan (relief rally), siapa pun pemenangnya," ujarnya.

(slm/slm)


Most Popular
Features