MARKET DATA

Adu Kuat Manufaktur 8 Raksasa Dunia: AS Perkasa, China Mulai Loyo

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
03 November 2026 17:25
Ilustrasi karyawan Duniatex tengah bekerja di lini produksi tekstil. (Dok. Duniatex)
Foto: Ilustrasi karyawan Duniatex tengah bekerja di lini produksi tekstil. (Dok. Duniatex)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Taiwan berhasil mengungguli sejumlah negara besar lainnya dalam hal aktivitas manufaktur pada Oktober 2026. Keduanya bahkan berada di atas China, Jepang, dan India yang selama ini dikenal sebagai pemain utama dalam industri manufaktur dunia.

Meski demikian, posisi teratas tersebut bukan berarti aktivitas pabrik AS dan Taiwan sedang mengalami peningkatan. Sebaliknya, kedua negara justru mencatat perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya.

Hal ini menjadi gambaran menarik dari perkembangan industri manufaktur dunia. Sejumlah negara masih mampu mempertahankan pertumbuhan aktivitas pabrik, tetapi lajunya mulai kehilangan tenaga. Di sisi lain, ada pula negara yang justru menunjukkan perbaikan.

Kondisi tersebut terlihat dari laporan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur S&P Global untuk periode Oktober 2026. 

PMI merupakan indikator yang digunakan untuk melihat kondisi aktivitas industri manufaktur atau pabrik di suatu negara.

Indikator ini disusun berdasarkan survei terhadap para manajer pembelian perusahaan manufaktur, dengan melihat perkembangan pesanan baru, produksi, jumlah tenaga kerja, persediaan bahan baku, hingga waktu pengiriman dari pemasok.

Dari delapan negara, yakni China, AS, Jepang, India, Korea Selatan, Inggris, Jerman, dan Taiwan, seluruhnya masih mencatat PMI di atas level 50.

Sebagai gambaran, PMI di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur sedang mengalami ekspansi atau pertumbuhan. Sebaliknya, angka di bawah 50 menandakan aktivitas pabrik mengalami kontraksi atau penurunan.

Meski seluruhnya masih tumbuh, hanya dua negara yang berhasil mencatat kenaikan PMI pada Oktober. Sementara itu, enam negara lainnya justru mengalami perlambatan dibandingkan September.

Dari delapan negara, AS dan Taiwan berada di posisi teratas dengan PMI sama-sama mencapai 54,9, meskipun keduanya mengalami perlambatan dibandingkan September. India menyusul di posisi ketiga dengan indeks 54,7.

Di tengah perlambatan yang dialami sebagian besar negara, Jerman dan Inggris justru menunjukkan perbaikan. PMI Jerman naik dari 53,9 menjadi 54,2, sedangkan Inggris meningkat dari 51,9 menjadi 52,8.

Sementara itu, China mencatat PMI sebesar 52,0, sedikit turun dari 52,1 pada September. Perlambatan juga terjadi di Jepang yang PMI-nya turun dari 54,1 menjadi 53,3.

Adapun Korea Selatan mencatat kinerja paling lemah di antara delapan negara tersebut. PMI manufakturnya merosot dari 53,9 menjadi 51,3, sekaligus mencatat penurunan paling tajam sebesar 2,6 poin.

Aktivitas manufaktur di Oktober 2026 memperlihatkan bahwa kedelapan negara masih tumbuh, tetapi sebagian besar mulai mengalami perlambatan. Hanya Jerman dan Inggris yang berhasil mencatat perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular