Adu Kuat Manufaktur ASEAN: RI Kini Kalahkan Vietnam & Malaysia
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri manufaktur sejumlah negara Asia Tenggara menunjukkan perkembangan yang cukup positif menjelang akhir 2026, di tengah kondisi perekonomian global yang masih menghadapi tekanan akibat konflik Timur Tengah.
Indonesia berhasil mencatatkan salah satu kinerja manufaktur terkuat di ASEAN, mengungguli Vietnam dan Malaysia. Namun, posisi teratas masih ditempati Thailand.
Hal ini terlihat dari laporan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang dirilis S&P Global pada Senin (2/11/2026) untuk periode Oktober 2026.
Dari lima negara yang dibandingkan, yakni Thailand, Indonesia, Vietnam, Malaysia, dan Myanmar, empat negara mencatatkan ekspansi manufaktur. Sementara itu, Myanmar menjadi satu-satunya negara yang masih mengalami kontraksi.
Sebagai gambaran, PMI merupakan indikator yang mengukur kondisi industri manufaktur berdasarkan survei terhadap perusahaan. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi, sedangkan angka di bawah 50 menandakan kontraksi dibandingkan bulan sebelumnya.
Thailand Memimpin, Vietnam dan Malaysia Bersaing, Myanmar Tertinggal
Di tengah persaingan manufaktur ASEAN, Thailand masih mampu mempertahankan posisinya sebagai negara dengan aktivitas industri paling ekspansif.
Industri manufaktur Negeri Gajah Putih bahkan sudah berada di zona ekspansi selama 18 bulan berturut-turut.
Kondisi ini tidak lepas dari banyaknya pesanan baru yang diterima perusahaan, seiring meningkatnya permintaan dan semakin luasnya pasar penjualan.
Bahkan, pertumbuhan pesanan baru menjadi salah satu yang tercepat sepanjang sejarah survei, sementara aktivitas produksi mencapai laju tertinggi sejak Desember 2025.
Namun, meningkatnya aktivitas pabrik juga membawa tantangan tersendiri. Sejumlah perusahaan mulai menghadapi keterbatasan tenaga kerja akibat pengunduran diri karyawan, sehingga pekerjaan yang belum selesai semakin menumpuk.
Sementara itu, Vietnam masih mampu mempertahankan ekspansi manufaktur selama 16 bulan berturut-turut, meskipun pertumbuhan produksi dan pesanan baru mulai melambat.
Salah satu persoalannya berasal dari gangguan pasokan bahan baku yang membuat perusahaan kesulitan meningkatkan produksi. Selain itu, kenaikan biaya bahan bakar dan transportasi ikut menambah tekanan, sementara permintaan ekspor masih mengalami penurunan.
Kondisi tersebut turut berdampak pada tenaga kerja, yang kembali mengalami pengurangan untuk bulan ketiga berturut-turut.
Berbeda dengan Vietnam, Malaysia justru mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan setelah aktivitas manufakturnya sempat mengalami kontraksi pada September.
Salah satu pendorongnya adalah meningkatnya permintaan terhadap produk yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Permintaan tersebut membantu perusahaan mendapatkan lebih banyak pesanan baru dan kembali meningkatkan produksi. Bahkan, pertumbuhan pesanan termasuk yang tercepat dalam sekitar empat setengah tahun terakhir.
Meski demikian, mahalnya biaya transportasi dan bahan baku serta keterlambatan pengiriman masih menjadi tantangan bagi pelaku industri Malaysia.
Di sisi lain, Myanmar justru menjadi negara dengan kondisi manufaktur paling lemah dalam perbandingan kali ini.
Ketika empat negara lainnya berada di zona ekspansi, aktivitas pabrik Myanmar masih terus menyusut.
Lemahnya permintaan, keterbatasan bahan baku, kenaikan biaya produksi, hingga aturan impor yang semakin ketat membuat perusahaan kesulitan menjalankan kegiatan produksinya.
Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun aktivitas manufaktur di sebagian besar negara ASEAN mulai membaik, pemulihannya belum berjalan merata.
Indonesia Melesat, Pesanan Ekspor Cetak Rekor
Di tengah persaingan tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara yang mencatatkan perkembangan paling menarik.
Aktivitas manufaktur dalam negeri mengalami peningkatan cukup tajam, bahkan mencatatkan kenaikan PMI terbesar dibandingkan empat negara ASEAN lainnya.
Pabrik-pabrik di dalam negeri mulai menerima lebih banyak pesanan, baik dari pasar domestik maupun luar negeri. Kondisi tersebut membuat perusahaan meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Berdasarkan laporan S&P Global, PMI manufaktur Indonesia naik menjadi 54,0 pada Oktober dari 52,4 pada September.
Capaian tersebut merupakan yang tertinggi sejak Maret 2024, atau dalam 31 bulan terakhir.
Menariknya, perbaikan tersebut bukan hanya berasal dari peningkatan aktivitas produksi.
Pesanan baru yang diterima perusahaan manufaktur meningkat dengan laju tercepat dalam sekitar lima tahun terakhir. Bahkan, pertumbuhan pesanan ekspor mencapai rekor tertinggi sejak survei S&P Global dimulai pada April 2011.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia dari pasar internasional sedang mengalami peningkatan yang sangat kuat.
Untuk memenuhi permintaan tersebut, perusahaan meningkatkan pembelian bahan baku dan menggunakan persediaan barang jadi yang sebelumnya sudah tersedia.
Akibatnya, persediaan produk jadi mengalami penurunan paling tajam sejak Agustus 2020.
Meski begitu, ada satu persoalan yang masih perlu diperhatikan.
Meningkatnya aktivitas produksi ternyata belum diikuti oleh penambahan tenaga kerja dalam jumlah besar. Perusahaan memang masih melakukan perekrutan, tetapi pertumbuhannya sangat terbatas.
Di sisi lain, pekerjaan yang belum selesai justru terus bertambah karena banyaknya pesanan yang masuk.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menilai peningkatan permintaan memberikan sinyal positif bagi aktivitas industri dalam beberapa bulan mendatang. Namun, perkembangan tenaga kerja tetap perlu diperhatikan.
Persoalan lainnya datang dari kenaikan biaya produksi, terutama akibat harga bahan bakar, bahan baku, dan pergerakan nilai tukar yang kurang menguntungkan.
Kondisi tersebut mulai mendorong perusahaan menaikkan harga jual produk. Meskipun industri manufaktur Indonesia tengah menunjukkan perkembangan yang kuat, tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan pesanan bisa terus berlangsung sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)