MARKET DATA

Mata Uang Asia Kebakaran: Ringgit, Won- Yuan Ambruk, 1 Negara Selamat

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
02 November 2026 09:55
Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan mendominasi pasar valuta Asia pada perdagangan awal pekan, Senin (2/11/2026). Mayoritas mata uang kawasan melemah ketika dolar Amerika Serikat (AS) masih bertahan kuat menjelang pekan padat agenda ekonomi dan politik.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, delapan dari 10 mata uang Asia yang dipantau melemah terhadap dolar AS. Hanya satu mata uang yang mampu menguat, sementara satu lainnya bergerak stagnan.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam pagi ini. Won melemah 0,54% ke posisi KRW1.340,6/US$.

Ringgit Malaysia menyusul dengan koreksi 0,30%, sementara yen Jepang turun 0,21%.

Rupiah juga kembali masuk zona merah. Mata uang Garuda melemah 0,14% ke posisi Rp18.145/US$, sehingga masih bertahan cukup jauh di atas level psikologis Rp18.000/US$.

Dolar Singapura terkoreksi 0,13%, dolar Taiwan turun 0,09%, peso Filipina melemah 0,02%, sementara yuan China turun tipis 0,01%.

Di tengah tekanan tersebut, dong Vietnam menjadi satu-satunya mata uang yang mampu menguat dengan kenaikan 0,05%. Baht Thailand bergerak stagnan.

Dolar AS sendiri masih menjaga kekuatannya pada awal pekan. Indeks dolar AS atau DXY pada waktu yang sama menguat 0,06% ke posisi 101,940.

Pergerakannya memang belum terlalu besar, tetapi pelaku pasar terlihat enggan mengambil posisi agresif menjelang sejumlah agenda penting yang berpotensi menentukan arah dolar dalam beberapa hari ke depan.

Fokus utama tertuju pada pemilu sela AS yang berlangsung Selasa waktu setempat. Hasil pemilu akan menentukan komposisi kekuatan di Kongres dan berpotensi memengaruhi arah kebijakan fiskal AS ke depan.

"Kesulitan yang kami hadapi dalam menganalisis hasil pemilu adalah survei menunjukkan sentimen anti-petahana yang kuat, tetapi hal itu tidak selalu berubah menjadi hasil pemilu yang sebenarnya, seperti yang kita lihat di Brasil dan sekarang Israel," ujar Eric Robertsen, Kepala Riset Global dan Kepala Strategi Standard Chartered, dikutip dari Reuters.

Pasar juga akan mencermati data tenaga kerja AS Oktober yang dirilis pekan ini. Laporan tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai kondisi ekonomi AS sekaligus arah kebijakan The Federal Reserve/The Fed berikutnya.

The Fed pada pekan lalu memilih mempertahankan suku bunga. Kini, pelaku pasar akan melihat apakah data tenaga kerja memberikan alasan bagi bank sentral AS untuk kembali mengetatkan kebijakan atau tetap menahan bunga.

Kekuatan dolar AS juga mendapat bantuan dari tekanan yang terjadi pada euro.

Euro diperdagangkan di sekitar US$1,1159 pada awal perdagangan Asia, tidak jauh dari level terendah dalam 17 bulan.

Tekanan terhadap euro muncul setelah Fitch mengubah prospek peringkat kredit Prancis menjadi negatif dari stabil setelah penutupan perdagangan Jumat.

Kondisi fiskal Prancis yang terus menjadi perhatian pasar membuat euro sulit bangkit. Karena euro memiliki bobot terbesar dalam perhitungan DXY, pelemahannya ikut membantu menopang indeks dolar AS.

Pasar valuta juga akan menghadapi sejumlah keputusan suku bunga bank sentral pekan ini. Bank of England, Reserve Bank of Australia, Norges Bank, dan Riksbank Swedia dijadwalkan mengumumkan kebijakan.

Reserve Bank of Australia menjadi salah satu yang paling diperhatikan karena diperkirakan akan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam hampir dua dekade.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular