MARKET DATA

Rekor 15 Tahun! 50% Duit Warga AS Ludes Cuma untuk Bertahan Hidup

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
03 November 2026 18:20
Bendera Amerika Serikat berkibar di AS. (IMAGN IMAGES via Reuters Connect/Bob DeChiara)
Foto: Bendera Amerika Serikat berkibar di AS. (IMAGN IMAGES via Reuters Connect/Bob DeChiara)

Jakarta, CNBC Indonesia - Biaya hidup di Amerika Serikat (AS) semakin menguras kantong. Bahkan, hampir separuh pengeluaran rumah tangga di negara dengan ekonomi terbesar dunia tersebut kini hanya digunakan untuk memenuhi dua kebutuhan, yakni tempat tinggal dan makanan.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan mahalnya biaya hidup masih menjadi masalah serius bagi masyarakat AS. Sebab, semakin banyak uang yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan sehari-hari, semakin sedikit pula dana yang tersisa untuk kebutuhan lainnya.

Hal tersebut terlihat dari laporan tahunan Consumer Expenditures yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics/BLS) pada Kamis (29/10/2026).

Berdasarkan laporan tersebut, pengeluaran untuk tempat tinggal dan makanan mencapai 46,9% dari total rata-rata pengeluaran rumah tangga AS sepanjang 2025. Porsi tersebut menjadi yang terbesar dalam 15 tahun terakhir.

Secara keseluruhan, rata-rata pengeluaran tahunan rumah tangga AS mencapai US$81.905 pada 2025, meningkat 4,3% dibandingkan US$78.527 pada tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, sebanyak US$27.790 digunakan untuk kebutuhan tempat tinggal, sedangkan US$10.633 lainnya dihabiskan untuk makanan.

Jika digabungkan, masyarakat AS rata-rata mengeluarkan US$38.423 dalam setahun, atau sekitar US$3.202 setiap bulan, hanya untuk memenuhi kedua kebutuhan tersebut. 

Jumlah ini meningkat US$1.988 dibandingkan tahun sebelumnya.

Jika dikonversi ke rupiah dengan (asumsi kurs Rp18.145/US$), besarnya pengeluaran tersebut cukup mencengangkan.

Untuk kebutuhan tempat tinggal saja, rata-rata rumah tangga AS menghabiskan sekitar Rp42 juta per bulan. Sementara itu, pengeluaran untuk makanan mencapai Rp16,1 juta per bulan. Jika digabung, jumlahnya mencapai Rp58 juta setiap bulan hanya biaya tempat tinggal dan makanan.

Kenaikan paling besar terlihat pada pengeluaran tempat tinggal yang tumbuh 5,8% dibandingkan 2024. Sementara itu, pengeluaran untuk makanan naik 4,6%.

Menariknya, kedua pengeluaran tersebut tumbuh lebih cepat dibandingkan kenaikan rata-rata total belanja masyarakat yang sebesar 4,3%.

Bahkan, kenaikannya juga melampaui inflasi konsumen AS yang tercatat sebesar 2,6% pada 2025.

Biaya Rumah dan Makanan Semakin Menguras Kantong 

Dari berbagai kebutuhan sehari-hari, tempat tinggal masih menjadi pengeluaran terbesar masyarakat AS. 

Sepanjang 2025, sekitar 33,9% dari total pengeluaran rumah tangga AS digunakan untuk kebutuhan tempat tinggal. Sederhananya, dari setiap US$100 yang dibelanjakan masyarakat, hampir US$34 habis untuk urusan rumah.

Pengeluaran ini bukan hanya untuk membayar sewa atau cicilan rumah, tetapi juga mencakup tagihan listrik, air, perabotan, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

Bahkan, pengeluaran untuk kebutuhan hunian utama meningkat 8% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan paling besar dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di rumah sewaan. Sepanjang 2025, rata-rata pengeluaran untuk rumah sewa melonjak 10,8%, sementara pengeluaran untuk rumah milik sendiri meningkat 7,3%.

Di tengah mahalnya biaya tempat tinggal, masyarakat AS juga harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli makanan.

Rata-rata pengeluaran makanan mencapai US$10.633 per tahun pada 2025, naik dari US$10.169 pada tahun sebelumnya.

Salah satu kenaikan paling mencolok terjadi pada belanja daging, ayam, ikan, dan telur yang meningkat hingga 11,7% dalam setahun.

Padahal, pengeluaran masyarakat tidak berhenti pada urusan rumah dan makanan saja.

Mereka juga harus membayar biaya kesehatan yang rata-rata mencapai US$6.470 per tahun pada 2025, meningkat 4,4% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, sebanyak US$4.310 digunakan untuk membayar asuransi kesehatan. Pengeluaran untuk asuransi kesehatan ini sendiri naik 6,3% dibandingkan 2024.

Belum lagi kebutuhan transportasi. Sepanjang 2025, rata-rata masyarakat AS mengeluarkan US$13.492 untuk transportasi, atau sekitar 16,5% dari total pengeluaran mereka.

Besarnya biaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ini membuat masyarakat harus semakin berhitung dalam menggunakan uangnya.

Setelah membayar kebutuhan rumah, membeli makanan, membayar asuransi kesehatan, dan memenuhi kebutuhan transportasi, uang yang tersisa untuk kebutuhan lainnya tentu semakin terbatas, terutama bagi masyarakat yang penghasilannya pas-pasan.

Penghasilan Naik, tetapi Banyak Warga Masih Kesulitan

Sebenarnya, pendapatan masyarakat AS juga mengalami kenaikan sepanjang 2025.

Berdasarkan laporan BLS, rata-rata pendapatan rumah tangga sebelum dipotong pajak meningkat 6,4% menjadi US$110.847 per tahun.

Kenaikan ini bahkan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan rata-rata pengeluaran masyarakat yang sebesar 4,3%.

Namun, masalahnya tidak semua masyarakat AS memiliki penghasilan yang cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Bagi kelompok berpenghasilan tinggi, kenaikan biaya hidup mungkin masih bisa diimbangi dengan pendapatan yang mereka terima. Namun, kondisinya berbeda bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

BLS mencatat bahwa kelompok 20% rumah tangga dengan penghasilan paling rendah rata-rata hanya memiliki pendapatan sebesar US$18.125 per tahun.

Sementara itu, rata-rata pengeluaran mereka justru mencapai US$37.935 per tahun.

Artinya, pengeluaran kelompok masyarakat tersebut tercatat lebih dari dua kali lipat pendapatan mereka sebelum pajak.

Kondisi serupa juga dialami kelompok masyarakat pada lapisan pendapatan 20% berikutnya.

Rata-rata pendapatan mereka tercatat sebesar US$46.080 per tahun, sedangkan pengeluarannya mencapai US$51.405.

Meski pengeluaran yang lebih tinggi daripada pendapatan tidak selalu berarti rumah tangga tersebut terlilit utang, selisih ini menunjukkan bahwa pendapatan tahunan saja belum cukup untuk menjelaskan bagaimana mereka membiayai kebutuhan hidupnya.

Persoalan biaya hidup ini juga belum selesai ketika AS memasuki 2026.

Berdasarkan laporan American Affordability Tracker yang diterbitkan Urban Institute pada Oktober 2026, sekitar 49% penduduk AS yang tinggal dalam keluarga tidak memiliki kemampuan keuangan yang memadai untuk memenuhi seluruh kebutuhan penting dan menjalani kehidupan yang layak.

Biaya tempat tinggal masih menjadi salah satu beban terberat.

Menurut Urban Institute, pengeluaran untuk tempat tinggal yang ditanggung penyewa rumah kini sekitar US$710 lebih besar setiap bulan dibandingkan 2017.

Sementara itu, keluarga yang memiliki dua anak kecil harus mengeluarkan biaya pengasuhan anak sekitar US$6.600 lebih banyak setiap tahun dibandingkan sepuluh tahun lalu.

Gambaran serupa terlihat dari survei Pew Research Center pada Juli hingga Agustus 2026.

Survei tersebut menunjukkan bahwa 44% orang dewasa di AS mengalami setidaknya satu kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar selama setahun terakhir.

Kesulitan tersebut mencakup biaya berobat, transportasi sehari-hari, membayar sewa atau cicilan rumah, hingga harus mengandalkan bantuan makanan.

Kondisinya jauh lebih berat bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Sebanyak 71% masyarakat dari kelompok tersebut mengaku mengalami kesulitan memenuhi setidaknya satu kebutuhan dasar.

Sebagai perbandingan, persentasenya mencapai 39% pada kelompok berpenghasilan menengah dan hanya 13% pada kelompok berpenghasilan tinggi.

Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan mahalnya biaya hidup di AS tidak dirasakan secara merata.

Masyarakat dengan pendapatan lebih kecil menghadapi tekanan yang jauh lebih berat karena sebagian besar uang mereka harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat AS Semakin Pesimistis terhadap Ekonomi

Mahalnya biaya hidup ternyata juga mulai memengaruhi cara masyarakat AS memandang kondisi perekonomian negaranya.

Hal ini terlihat dari survei terbaru University of Michigan yang menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen AS masih berada pada tingkat yang sangat rendah.

Pada Oktober 2026, indeks kepercayaan konsumen AS tercatat sebesar 48,0, hampir tidak berubah dibandingkan September yang berada di level 48,1.

Namun, jika dibandingkan Oktober 2025 yang masih berada di level 53,6, indeks tersebut sudah turun sekitar 10,4%.

Sebagai gambaran, indeks kepercayaan konsumen digunakan untuk melihat seberapa optimistis atau pesimistis masyarakat terhadap kondisi keuangan pribadi dan perekonomian secara umum.

Semakin rendah angkanya, semakin buruk pula penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

Bahkan, posisi indeks pada Oktober 2026 menjadi yang terendah kedua sepanjang sejarah survei tersebut, setelah sempat menyentuh rekor terendah 44,8 pada Mei 2026.

Penurunan juga terlihat dari penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini.

Indeks yang mengukur penilaian tersebut turun dari 50,9 pada September menjadi 46,7 pada Oktober, atau merosot 8,3% hanya dalam satu bulan.

Direktur Survei Konsumen University of Michigan, Joanne Hsu, menjelaskan bahwa kemampuan masyarakat untuk membeli barang masih menjadi salah satu masalah utama.

Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang merasa kesulitan membeli barang-barang dengan harga relatif mahal dan masa pemakaian panjang, seperti mobil atau perabotan rumah tangga.

Tingginya suku bunga membuat pembelian barang secara kredit menjadi semakin mahal. Pada saat yang sama, masyarakat juga masih mengkhawatirkan harga barang yang sulit dijangkau.

Akibatnya, penilaian konsumen terhadap kondisi pembelian barang-barang tersebut merosot hingga 18% pada Oktober.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa meskipun pendapatan masyarakat AS secara rata-rata meningkat, rasa khawatir terhadap kondisi keuangan belum juga hilang.

Banyak masyarakat masih harus memikirkan bagaimana mencukupi kebutuhan sehari-hari sebelum menggunakan uangnya untuk membeli barang lain.

Apalagi, laporan pengeluaran BLS yang dirilis pada Oktober 2026 baru menggambarkan kondisi sepanjang 2025.

Artinya, data tersebut belum memperhitungkan dampak kenaikan harga energi akibat konflik AS dan Iran yang terjadi pada 2026.

Situasi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian AS.

Pasalnya, belanja masyarakat selama ini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi negara tersebut.

Ketika semakin banyak uang habis untuk membayar kebutuhan pokok, masyarakat berpotensi mengurangi pembelian barang dan jasa lainnya.

Jika kondisi ini terus berlangsung, pertumbuhan konsumsi masyarakat AS berisiko melambat dan pada akhirnya dapat menekan laju pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular