MARKET DATA

Biaya Hidup Makin Mahal, Ketahanan Keuangan Masyarakat Kian Tergerus

Achmad Aris,  CNBC Indonesia
12 June 2026 17:35
Suasana gedung perkotaan Ibukota Jakarta, Selasa, (4/7). Indonesia resmi naik kelas menjadi negara berpenghasilan menengah atas alias upper middle income country berdasarkan kategorisasi terbaru yang dirilis Bank Dunia. 
 (CNBC Indonesia/Muhammad
Foto: Suasana gedung perkotaan Ibukota Jakarta, Selasa, (4/7). Indonesia resmi naik kelas menjadi negara berpenghasilan menengah atas alias upper middle income country berdasarkan kategorisasi terbaru yang dirilis Bank Dunia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang kenaikan biaya hidup yang melanda berbagai negara Asia mulai meninggalkan dampak yang lebih dalam terhadap kondisi keuangan rumah tangga. Bukan hanya mengurangi daya beli, tekanan inflasi kini mengikis ketahanan keuangan masyarakat secara perlahan.

Temuan tersebut terungkap dalam Sun Life Asia Financial Resilience Index 2026 yang dilakukan terhadap 6.000 responden di enam negara Asia, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Hong Kong. Survei ini menggambarkan bagaimana masyarakat semakin fokus bertahan menghadapi tekanan ekonomi saat ini, meski harus mengorbankan kesiapan finansial mereka di masa depan.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa proporsi masyarakat yang memiliki tingkat ketahanan keuangan tinggi turun dari 32% pada 2025 menjadi hanya 25% pada 2026. Sebaliknya, kelompok masyarakat dengan ketahanan keuangan moderat meningkat menjadi 61% atau hampir dua pertiga.

Penurunan ini mengindikasikan semakin banyak rumah tangga yang masih mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi dengan cadangan keuangan yang lebih tipis dan kemampuan yang semakin terbatas untuk menghadapi guncangan ekonomi di masa depan. Daya tahan kelompok ini tidak lebih dari enam bulan jika tiba-tiba kehilangan penghasilan.

Yang lebih mengkhawatirkan, hanya 13% responden yang mengaku merasa sangat aman terhadap kondisi keuangan mereka saat ini.

Survival Mode

Laporan tersebut menemukan bahwa kenaikan biaya hidup kini menjadi hambatan terbesar bagi masyarakat untuk mengambil kendali atas keuangannya.

Sebanyak 83% responden mengaku inflasi membuat mereka lebih sulit memenuhi kebutuhan bulanan. Dampak terbesar dirasakan pada pengeluaran kebutuhan pokok, dengan 95% responden mengaku belanja bahan makanan menjadi lebih mahal dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain bahan pangan, kenaikan biaya juga dirasakan pada utilitas seperti listrik dan air (94%), bahan bakar transportasi (92%), biaya kesehatan (91%), serta bahan bakar memasak (91%).

Kondisi tersebut membuat masyarakat mengubah prioritas keuangannya. Sebanyak 53% responden menyatakan fokus utama mereka selama 12 bulan ke depan adalah mengelola pengeluaran sehari-hari. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan prioritas untuk menabung, berinvestasi, maupun mempersiapkan dana pensiun.

Sementara itu lebih dari separuh (55%) responden tidak memiliki rencana keuangan atau hanya merencanakan keuangan sampai setahun ke depan, sedangkan 61% responden tidak akan mampu bertahan lebih dari 6 bulan tanpa dukungan keuangan dari luar seandainya kehilangan pekerjaan atau sakit.

Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak rumah tangga tidak lagi berada dalam posisi untuk mengoptimalkan keuangan, melainkan sekadar berusaha mempertahankan standar hidup yang ada.

Makan Tabungan, Kurangi Iuran 

Tekanan biaya hidup memaksa masyarakat mengambil berbagai langkah penyesuaian. Di satu sisi, sebagian masyarakat melakukan langkah konstruktif seperti mengurangi pengeluaran non-esensial (56%), meningkatkan pengetahuan keuangan (31%), serta mencoba berinvestasi untuk memperoleh hasil yang lebih baik (31%).

Namun di sisi lain, semakin banyak rumah tangga yang mengambil keputusan yang berpotensi melemahkan kesehatan finansial jangka panjang.

Sebanyak 27% responden mengaku mengurangi atau bahkan melewatkan pengeluaran penting, sementara 25% mulai menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan 10% responden menghentikan sementara kontribusi dana pensiun mereka.

Keputusan-keputusan tersebut memang membantu menjaga arus kas dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, langkah tersebut berisiko mengurangi bantalan keuangan yang dibutuhkan ketika menghadapi kehilangan pekerjaan, sakit, atau krisis ekonomi.

Laporan ini menyebut fenomena tersebut sebagai bentuk "erosi ketahanan keuangan", yaitu kondisi ketika masyarakat masih terlihat mampu bertahan secara ekonomi, tetapi sebenarnya semakin rentan terhadap guncangan.

Menariknya, sebanyak 68% responden menganggap tabungan sebagai fondasi utama keamanan finansial. Sayangnya, kondisi aktual menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum memiliki dana darurat yang memadai.

Hanya 39% responden yang mengaku mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa bantuan eksternal apabila kehilangan sumber pendapatan akibat pemutusan hubungan kerja, sakit, atau kondisi darurat lainnya.

Artinya, mayoritas rumah tangga di Asia masih memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap kejadian-kejadian tak terduga. Kesenjangan antara persepsi dan realitas ini menjadi salah satu tantangan utama dalam membangun ketahanan keuangan masyarakat.

Peluang bagi Industri Asuransi

Bagi industri asuransi dan jasa keuangan, hasil survei ini memberikan sinyal penting. Ketika semakin banyak masyarakat merasa rentan terhadap risiko finansial, kebutuhan akan perlindungan melalui asuransi kesehatan, asuransi jiwa, perlindungan pendapatan, serta solusi perencanaan keuangan berpotensi meningkat.

Di saat yang sama, perusahaan tidak lagi cukup hanya menawarkan produk. Konsumen kini membutuhkan edukasi, panduan, dan pendampingan untuk membantu mereka membuat keputusan keuangan yang lebih baik.

Di tengah tekanan biaya hidup yang belum mereda, kemampuan industri keuangan untuk membantu masyarakat membangun kembali ketahanan finansial dapat menjadi faktor pembeda sekaligus sumber pertumbuhan baru.

Pada akhirnya, tantangan terbesar masyarakat Asia saat ini bukan sekadar menghadapi inflasi, melainkan menjaga agar keputusan-keputusan jangka pendek yang diambil hari ini tidak mengorbankan keamanan finansial mereka di masa depan.

(ach/ach) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular